« Older Entries Subscribe to Latest Posts

21 May 2012

DIALOG BATAL DEMI PESTA

Posted by Hans Hallan. No Comments

UNTUK kesekian kalinya Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengerahkan seluruh SKPD di Provinsi dan Pemkab Flotim untuk merayakan hari ulang tahun (ultah) di kampung halamannya, Witihama, Pulau Adonara. Pesta ultah itu dirayakan secara besar-besaran. Saking semaraknya pesta itu, Lebu Raya sampai lupa janji dialog dengan masyarakat di Desa Tuwegoetobi, Kecamatan Witihama. Pertemuan itu batal, masyarakat yang sudah menunggu berjam-jam pun kecewa. Mereka merasa tidak dihargai oleh Lebu Raya yang lebih mementingkan pesta ultahnya.
Ketua Dewan Stasi, Klemens Kopong Miten mengatakan, peristiwa tersebut seharusnya tidak dilakukan oleh seorang gubernur. Menurutnya, pada Rabu (16/5) sekitar pukul 20.00 Wita, pemerintah desa mengumumkan secara resmi kepada seluruh masyarakat, rencana kunjungan gubernur pada hari Kamis (17/5) pukul 12.00 Wita. Masyarakat lalu melakukan persiapan. Dia mengaku terlibat langsung dalam mempersiapkan penari tarian Hedung untuk menjemput gubernur. Bahkan, perlengkapan tarian Hedung dipinjamnya dari desa tetangga hanya untuk memeriahkan penjemputan Gubernur. “Para siswa Taman Kanak-kanak (TK), diperintahkan menggunakan seragam, meski hari itu adalah hari libur,” kata Kopong Miten.
Masyarakat, lanjutnya, akhirnya harus kecewa karena baru pukul 22.00 Wita, Camat Witihama Ignas Ero Ama menyampaikan pembatalan kunjungan Gubernur. “Sebelum matahari terbenam, sudah harus masuk rumah. Dan juga malam ini saya harus duduk dengan keluarga,” kata Camat Ama menirukan ucapan Lebu Raya.
Perayaan pesta ultah Gubernur Lebu Raya di kampung halaman juga diwarnai dengan penundaan keberangkatan KMP Ile Boleng. Kapal yang seharusnya berangkat sesuai jadwal setiap hari Selasa, harus ditunda ke hari Rabu untuk menunggu rombongan peserta pesta di Adonara. Penumpang yang sudah ada di atas kapal pada Selasa (15/5), harus rela pulang ke rumah untuk kembali lagi hari Rabu (16/5) untuk berangkat bersama Gubernur dan rombongan.
Selain itu, kapal yang sedianya melayani rute Kupang-Lewoleba harus dialihkan ke Pelabuhan Waiwerang untuk menurunkan rombongan pesta. “Ini sudah pelanggaran karena mengalihkan rute pelayaran. Di dalam dokumen pelayaran tujuan Lewoleba tapi kemudian dialihkan ke Waiwerang,” kata sumber VN.
Sebelumnya, KMP Ile Boleng ini sempat menjadi polemik karena sudah diminta Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome untuk melayani pelayaran ke Sabu untuk membawa bahan-bahan pembangunan. Tapi permintaan ditolak dengan alasan sudah dijadwalkan ke Lewoleba.
Menurut sumber VN, sumber dana pesta ultah tersebut dari SKPD, satuan kerja (Satker) yang mengelola dana APBN di setiap SKPD, dan para kontraktor yang menjadi langganan mengerjakan proyek-proyek provinsi. Diperkirakan, dana yang dihabiskan mencapai Rp 500 juta. Dana yang dikumpulkan itu selain untuk keperluan pesta, juga untuk sumbangan-sumbangan yang diberikan baik kepada sekolah dasar (SD) tempat Lebu Raya sekolah, juga untuk gereja, dan masjid.
Sementara sumber VN di Larantuka yang hadir dalam acara ultah Lebu Raya mengatakan, pada acara itu, hampir seluruh pejabat lingkup Pemkab Flotim hadir. Ada Bupati Flotim, Yosep Lagadoni Herin, Sekda Flotim, Anton Tonce Matutina, Asisten 2 Setda Flotim, Petrus Pemang Liku, Kepala Dinas PPO, Bernard Beda Keda, Kepala Dinas PU, John Fernandes, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Sosial, Frans Fernandes, Kepala BPPKAD, Ramli Laot, Kepala Badan Kesbangpol, Ramli Lamanepa, Kabag Humas, dan Kepala Dinas Kesehatan, Yosep Usen Aman. Hadir juga anggota DPR RI, Honing Sani, anggota DPRD NTT, Gusti Beribe, dan semua anggota DPRD Flotim dari Fraksi PDI perjuangan.
Acara digelar di halaman Kapela Watoone, dihadiri lebih kurang 500 orang. Undangan selain pejabat pemerintah provinsi, dan kabupaten, juga para camat, dan kepala desa di sekitar Kecamatan Witihama. Sedangkan warga masyarakat tidak begitu banyak yang hadir.
Gubernur Lebu Raya dalam acara itu menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat dan keluarga selama dia memimpin. Dia juga meminta dukungan bagi Fren jilid II pada Pilkada Gubernur mendatang.
Acara dimeriahkan sejumlah penyanyi dari Kupang. Bupati Flotim, Yosni Herin bersama jajarannya juga menyumbangkan lagu pada acara ulang tahun ini. Acara dilanjutkan dengan jai dan dolo-dolo bersama hingga pukul 15.00 Wita.

Pemimpin Borjuis
Sosiolog Undana, Balkis Soraya Tanof, kepada VN, Sabtu (19/5) malam kemarin mengatakan, pesta ultah Gubernur Lebu Raya, di tengah kondisi NTT yang miskin, rawan pangan, banjir, dan longsor, serta sedang mengalami kekurangan dana PON Pekanbaru menunjukkan Lebu Raya sebagai pemimpin borjuis kapital. “Dia berfoya-foya merayakan ulang tahun bersama elite birokrasi dan para pengusaha sementara saat bersamaan dia mengabaikan masyarakat yang membutuhkan empati dan perhatian dari dirinya. Itu tipe pemimpin feodal borjuis,” katanya.
Menurutnya, tindakan Lebu Raya mengerahkan hampir seluruh SKPD lingkup Pemprov NTT mengikuti pesta ultah di Witihama, merupakan tindakan pemimpin primordial. Tindakan Lebu Raya terkesan mengintervensi SKPD yang semestinya bisa berbuat banyak untuk masyarakat namun harus hadir untuk kepentingan gubernur pribadi.
Bentuk lain kepemimpinan primordial yang ditunjukkan Lebu Raya, lanjut dia, dapat dibuktikan dengan mengalihkan rute keberangkatan KMP Ile Ape, dari Lewoleba ke Waiwerang. “Jadi pemimpin yang primordial itu termasuk mengarahkan semua kekuatan aset negara untuk kepentingan pribadinya,” tukasnya.
Balkis curiga kegiatan tersebut menggunakan keuangan negara dari setiap SKPD lingkup Pemprov NTT yang diarahkan untuk mengikuti kegiatan tersebut. “Kalau yang jalan itu sebagian besarnya adalah SKPD, masyarakat bisa mencurigai kalau dalam pelaksanaan kegiatan tersebut juga menggunakan uang rakyat yang bersumber dari setiap SKPD,” tegasnya.
Pengamat hukum Unika, Servasius Rodrigues sangat menyayangkan sikap gubernur yang enggan bertemu dengan masyarakat yang telah ada dalam jadwalnya hanya demi perayaan ulang tahun bersama elite birokrasi. “Saya pada intinya sangat menyayangkan sikap Gubernur yang seperti itu. Mestinya dia bertemu dengan rakyat yang telah dijanjikannya,” katanya.
Idealnya lanjut Rodrigues, Gubernur Lebu Raya memenuhi jadwal pertemuan dengan masyarakat. Kalaupun jadwalnya padat, mestinya dia mengundang masyarakat mengikuti acara ultah sambil mengkomunikasikan aspirasi yang ingin disampaikan masyarakat. (ans/yan/H-1)

Sumber: victorynews

5 May 2012

Mutu Pendidikan Lembata Sangat Rendah

Posted by Hans Hallan. No Comments

LEWOLEBA, FBC- Mutu pendidikan di Kabupaten Lembata sangat rendah. Dari sumber BPS setempat, persentase terbesar penduduk Lembata adalah penduduk dengan tingkat pendidikan rendah atau sangat rendah. Sementara itu,  beberapa fenomena pendidikan yang memicu rendahnya kualitas pendidikan di Lembata diantaranya,  rendahnya capaian kinerja pendidikan,  kualitas pengajaran dan pendidikan yang masih bermasalah,  minimnya sarana pendukung pendidikan, rendahnya partisipasi dalam Pendidikan,  keterbatasan pendekatan rasio jumlah murid dan guru, tingginya tingkat putus sekolah dan minimnya dana langsung Pendidikan.

Beberapa poin di atas terungkap dalam temuan penelitian The Institutie for Ecosoc Rights, yang dipaparkan penelitinya  Frans Prasetyo, dalam diskusi “Pendidikan Berbasis Hak : Merintis Wajib Belajar 12 Tahun di Kabupaten Lembata”, berlangsung di Aula Don Bosko, Lewoleba, Kabupaten Lembata, Rabu (2/5)

Diskusi yang dibuka Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Watun, dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Lembata, Yohanes De Rosari dan anggota DPRD Kabupaten Lembata; Asisten Kepemerintahan, Gabriel Warat, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (PPO), Alex Making, Kepala-kepala sekolah dalam kota Lewoleba, Tokoh-tokoh pendidik, Tokoh-tokoh masyarakat dan sejumlah pemangku pendidikan lainnya.  Selain Frans Prasetyo,  pembicara lain Sri Palupi dari Ecosoc,  dan pakar pendidikan Dr. Lauren Kaluge sebagai pembahas. Moderator diskusi Bediona Philipus.

Dalam paparan, Frans Prasetyo mengungkapkan, masalah utama yang dihadapi masyarakat Kabupaten Lembata adalah rendahnya tingkat pendidikan dari kebanyakan warga kabupaten ini. Kenyataan ini, menurutnya, semakin diperparah dengan adannya kebijakan pemerintah daerah dan bupati yang kurang mendukung peningkatan daya belajar dari pelaku-pelaku utama kegiatan pendidikan di Lembata yaitu para guru.

Temuan penelitian yang dipresentasikan Frans Prasetyo,  membeberkan secara rinci 6 fenomena pendidikan yang memicu rendahnya kualitas pendidikan di Lembata. Pertama, masih rendahnya pendidikan seumumnya warga Lembata akibat dari rendahnya capaian kinerja pendidikan selama ini di Lembata. Tercatat dalam BPS setempat, mereka yang tidak pernah sekolah  42,21 persen; yang berpendidikan maksimal Sekolah Dasar  40,67 persen.  “Jika mereka digabungkan, maka terdapat jumlah 82,88 persen penduduk Lembata yang tergolong berpendidikan rendah. Sisanya sejumlah kecil : 6,9 persen berpendidikn SMP, 7,96 persen berpendidikan SLTA dan selebihnya 1-2 persen berlatar belakang lulusan diploma atau kesarjanaan,”ungkap Frans.

Kedua, Masalah Kualitas Pengajaran dan Pendidikan. Sejauh terkait dengan kurikulum menunjukkan bahwa tingkat kelulusan dan rata-rata NEM murid-murid di Lembata pada umumnya masih sangat memprihatinkan. Untuk tingkat kelulusan SD sungguh tidak sangat menggembirakan, dan untuk tingkat kelulusan SMTP dan SMTA tampak “memprihatinkan” karena capaiannya masih kurang dari 5 (Lima).

Sementara sarana pendukung pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium dan unit kesehatan sekolah sangat-sangat terbatas pula. Belum lagi diperparah dengan tingkat pendidikan para guru yang masih sangat rendah. Frans mempertanyakan, kalau gurunya sendiri tidak belajar bagaimana mungkin muridnya bisa belajar?

Ketiga, Rendahnya Partisipasi Dalam Pendidikan. Berbagai masalah yang terus melilit dan memicu rendahnya partisipasi dalam pendidikan, terutama terjadi di desa-desa pelosok yang sulit terjangkau dengan transportasi umum karena jelek dan parahnya infrastruktur jalan.

Tingkat keikutsertaan lulusan SD sampai ke taraf SMP masih rendah (65,11 persen). Artinya, nyaris sebanyak 35 persen anak-anak SD putus sekolah lanjut. Justeru rendahnya partisipasi pendidikan yang condong menonjol adalah di wilayah pedesaan, belum lagi yang putus sekolah di tingkat SLTP. “Bagaimana program wajib belajar 9 tahun yang diprogramkan pemerintah bisa dianggap sukses ?”tanya Frans.

Keempat, Keterbatasan Pendekatan Rasio Jumlah Murid dan Guru. Sekalipun menurut pemerintah setempat, perbandingan (rasio) jumlah guru dan murid pada umumnya dipandang sebagai keadaan yang sudah baik, namun kelemahan dari pemerintah ini, menurut peneliti adalah perbandingan yang dimaksudkan hanya berlaku dimana terdapat para guru dan para murid. Sementara, rasio guru-murid untuk sekolah-sekolah kejuruan sama sekali belum memadai.

Hal ini tampak sangat bergantung pada kesungguhan komitmen pemerintah apakah memang hendak menekankan penyelenggaraan sekolah kejuruan sehinggadiperlukan suatu investasi (belanja modal) yang sepadan untuk kepentingan penyelenggaraan sekolah kejuruan.

Kelima, Tingkat Putus Sekolah. Tingkat putus sekolah di Lembata tergolong rendah, jumlah anak putus sekolah 126 orang (0,69%) dari 18.160 orang jumlah penduduk usia sekolah SD, jumlah putus sekolah SMTP 118 orang (1,81%) dari 6.525 orang jumlah penduduk usia sekolah SMTP dan jumlah anak putus sekolah SMTA 55 orang (1.16%) dari 4.756 jumlah penduduk usia sekolah SMTA. Namun, jika tingkat kelulusan ternyata condong dilatarbelakangi oleh rendahnya mutu penyelenggaraan pendidikan, sehingga hasil capaian pendidikan juga condong lebih rendah. Dengan demikian kata Frans, kesahian tingkat putusan sekolah sesungguhnya dapat dipertanyakan.

Keenam, Minimnya Dana Langsung Pendidikan. Dana yang diperuntukan secara langsung bagi masyarakat atau para penerima manfaat dari proses penyelenggaraan pendidikan daerah belum sampai setinggi sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi sebesar 20 persen. Sampai tahun anggaran 2011 prosentase dana langsung untuk masyarakat baru mencapai sebesar 10 persen. Masih separuh dari yang ditetapkan oleh undang-undang. Sementara untuk kepentingan pegawai atau tak langsung bernilai sampai dengan 18-22 persen. Lebih menyedihkan lagi kalau benar sinyalemen yang berkembang bahwa alaokasi dana langsung pendidikan tahun anggaran 2012 cuman 3 persen.

Butuh Kebijakan Tepat dan Strategis

Sri Palupi dalam paparannya mengungkapkan kuatnya intervensi pemerintah dengan kebijakan-kebijakannya yang tepat dan strategis menjadi penentu keberhasilan di sektor pendidikan.  Dengan mengungkapkan pengalaman Kabupaten Jembrana, kata Sri Palupi, kebijakan pengalokasian anggaran harus benar-benar sesuai amanat konstitusi yaitu 20 persen.

Sri Palupi juga menunjukkan pengalaman sukses lain yang diterapkan kepada  anak-anak Kabupaten Maybrana,  Papua Barat. Menurutnya,  hanya karena kuatnya budaya dan semangat gotong-royong, semua anak dari suatu kampung yang bersekolah mulai dari SD-Perguruan Tinggi wajib dibiayai secara bersama-sama oleh seluruh warga masyarakat desa tersebut.

“Bagi orang Maybrana, budaya telah mengamanatkan bahwa anak yang sudah sukses dan mandiri pasti saja berkewajiban untuk menanggung dan membiayai adik, anaknya yang menyusul bersekolah dari bawah. Moto pendidikan mereka yang sangat terkenal dan sakti adalah : “Anu Beta Tubat”, Bersama Kami Mengangkat. Jadi ada prinsip gotong royong yang sangat kuat secara budaya,” ungkpa Sri Palupi.

Sebelumnya, Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Watun dalam sambutan pembukaan diskusi, mengatakan,”tidak kita sangkali kalau kualitas pendidikan kita di Lembata masih sangat rendah, tetapi tidak juga menyangkali bahwa de fakto pendidikan Lembata telah pula menghasilkan orang-orang yang berkualitas sangat baik, dapat berkompetisi hidup di luar, di tingkat propinsi, pusat bahkan di mana-mana. Bahwa pendidikan kita berkualitas rendah harus kita sikapi bersama sebagai bukti tanggung jawab bersama.”

“Selama ini, kita lebih mengedepankan hak dari pada kewajiban, seolah tanggung jawab hanya ada pada pemerintah sebagai subyek pembangunan pendidikan satu-satunya. Padahal semua pihak mulai dari orang tua, anak itu sendiri, sekolah, lembaga agama, masyarakat dan tentunya pemerintah secara bersama-sama pro aktif memajukan pendidikan di Lembata,” tegas Viktor, sapaan akrab Viktor Mado Watun.

Lebih lanjut mantan anggota DPRD Propinsi Nusa Tenggara Timur ini mengajak DPRD Kabupaten Lembata untuk mendalami dan memantapkan gagasan untuk membangun Pendidikan Berbasis Hak dengan Program Wajib Belajar 12 Tahun dengan produk hukum berupa Peraturan Daerah. Ia mengajak semua pihak untuk berpartisipasi dengan cara kita masing-masing untuk membangun, memajukan dan turut mengawasi pelaksanaan pendidikan kita di Lembata.

“Saya mengajak kita semua yang ada di sini, tema-teman anggota DPRD, Tokoh-tokoh masyarakat, para pensiunan guru, para mantan kepala dinas PPO yang sempat hadir, para kepala sekolah, para tokoh pendidikan, para pihak yang berpeduli pada pendidikan, para pemangku pendidikan agar kita bersatu tekat membangun dan memajukan pendidikan kita di Lembata dengan cara kita masing-masing,”

Diskusi yang merupakan kerjasama The Institutie for Ecosoc Rights,  Eropean dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Lembata rencananya berlangsung dua hari hingga Kamis ( 3/5).  Hasil diskusi nantinya  akan menjadi masukan bagi DPRD Kabupaten Lembata untuk membuat Rancangan Peraturan Daerah (Legal Drafting) tentang Pendidikan. (Lukas Narek)

 

Sumber: www.floresbangkit.com

3 May 2012

Warga Lamalera Diminta Pulang Rayakan Tahun Baru Lefa dan Pneta

Posted by Hans Hallan. No Comments

LEWOLEBA, FBC - Misa Lefa, sebagai puncak dari seluruh rangkaian ritual adat Lefa berlangsung di pantai Emasia, pelataran perumahan pledang nelayan Lamalera,  Kecamatan Wulandoni,  Kabupaten Lembata, Selasa (1/5). Perayaan ini juga merupakan kesempatan berkumpulnya sanak saudara di Lamalera.

Misa yang dipimpin Romo Leo, Pr dengan Pengkotbah Pater Yan Prasong, SVD, dihadiri ribuan umat yang datang dari Paroki Lamalera dan paroki di luar Lamalera. Tak ketinggalan ikut hadir dan menyaksikan,  puluhan wisatawan domestik dan manca Negara yang sudah berada di Lamalera sehari sebelumnya.

Pantauan FBC di Lamalera, unsur pemerintahan setempat yang hadir hanya Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata, Wenseslaus Ose Pukan, Camat Wulandoni, Paulus Sinakai Saban , bersama aparat Kecamatan Wulandoni dan pemerintahan desa setempat. Bupati Lembata, Yance Sunur, Wakil Bupati, Viktor Mado Watun, Ketua dan Anggota DPRD Kabupaten Lembata yang semula dijadwalkan hadir, ternyata tidak dapat hadir karena kesibukan. Ketidakhadiran pimpinan dari Lewoleba ini, sempat menjadi keluh kesah sebagian warga.

Dalam kotbanya Pater Yan, sapaan akrab Pater Yan Prasong, SVD mengatakan  kita orang Lamalera harus punya Tahun Baru.  Ia mengajak agar orang Lamarela merasakan dan memaknai 1 Mei sebagai tahun barunya orang Lamalera.  “Tahun Baru kita adalah Tahun Baru Lefa dan Pneta”, ungkap Pater Yan.

Lebih lanjut, imam kedua asal Lamalera, setelah imam pertama Pater Alex Beding, SVD, mengatakan bahwa, Misa Lefa, merupakan Perayaan Ekaristi Agung Umat Katolik Lamalera untuk memohon berkat Tuhan bagi seluruh usaha penangkapan ikan di laut (Lefa), termasuk penangkapan ikan paus dan Usaha Penjualan Ikan dan hasil laut lainnya oleh ina-ina (kaum wanita) ke kampung-kampung pedalaman (Pneta). Perayaan berkat Lefa dan Pneta ini, wajib dilakukan orang Lamalera setiap tahunnya.

Pater Yan juga mengajak agar umat mempersiapkan diri merayakanTahun Baru ini dengan hati yang bersih. ” Hari ini tanggal 1 Mei, di sini kita merayakan Tahun Baru Lefa, Tahun Baru Pneta, Tahun Baru Lamalera dengan hati bersih,” demikian pater Yan.

Camat Wulandoni, Paulus Sinakai Saban kepada FBC diakhir perayaan mengharapkan  agar perayaan ini bisa menjadi kesempatan bertemunya orang Lamalera di kampung.   “Ke depan, mesti ada sebuah komitmen atau sebuah keputusan desa yang mewajibkan semua anak asal Lamalera kembali atau setidaknya berpartisipasi dalam perayaan Tahun Baru Lefa dan Pneta Lamalera, tanggal 1 Mei setiap tahunnya”, ungkap camat dengan penuh optimis. (Lukas Narek)

Sumber: www.floresbangkit.com

31 Mar 2012

Perayaan Pemberkatan Duplikat Patung Tuan Ma Dipimpin Uskup Larantuka

Posted by hanshallan. No Comments

Kamis (29/03), Pukul 16.00 wita, Umat Katolik Keuskupan Larantuka mengikuti ibadat pemberkatan duplikat patung Tuan Ma (Mater Dolorosa) di Istana Keuskupan Larantuka. Ibadat pemberkatan yang dipimpin Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr ini juga dihadiri segenap pihak antara Lain keluarga kerajaan Larantuka, Konfreria, pihak pemerintah Kabupaten Flores Timur serta umat keuskupan Larantuka.

Perayaan-Pemberkatan-Duplikat-Patung-Tuan-Ma

Dalam khotbahnya, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr. menegaskan, patung bukanlah tujuan, patung hanyalah sarana sikap dan teladan hidup atau alat yang membantu kita untuk lebih menghayati kehidupan iman, patung hanyalah sarana untuk membantu umat untuk lebih mengenal dan mencintai Bunda Maria.

”Patung bukan pusat, dan juga bukan tujuan dari devosi dan ibadat. Ia hanya alat yang membantu agar kita boleh lebih mengenal, mengasihi dan mencintai Tuhan dan Bunda Maria serta mencontohi sikap dan teladan hidup Bunda Maria,” ungkap Uskup Frans

Uskup juga menegaskan Bunda Maria mendapat tempat khusus dan istimewa dalam tradisi dan masyarakat Lamaholot dan dalam keuskupan Larantuka.  ”Menurut tradisi dan cerita, lima abad yang lampau Bunda Maria hadir dalam sosok sebuah patung.  Dan pada saat ini patung tersebut sudah berusia 500 tahun yang sudah tentu usia seperti itu sebuah patung akan termakan usia dan oleh hukum alam sehingga mengalami kerapuhan,” demikian Uskup.

Menurut Uskup, ada keyakinan iman dari pengalaman hidup sejarah masyarakat Larantuka dan sejarah keuskupan Larantuka bahwa ada gerakan-gerakan tertentu dari Tuhan melalui Bunda Maria yang menghantar masyarakat dan keuskupan untuk berjalan maju untuk semakin dekat dengan Tuhan dan sesama serta semakin terbuka dengan siapa saja dalam kehidupan.

”Kita semua tidak menghendaki dan menginginkan devosi itu berhenti dan tradisi itu berakhir oleh suatu alasan secara khusus oleh ketuaan dan kerapuhan fisik patung Bunda Maria. Meskipun patung bukanlah tujuan dan pusat ibadat karena ia hanyalah sebuah alat yang membantu, tetapi sebagai alat yang membantu sudah selayaknya kita harus merawat dan menjaganya,”ungkap Uskup.

Sebagai bagian dari devosi dan penghormatan maka pembuatan patung duplikat tersebut tidak terlepas dari  reaksi-reaksi dan tantangan. Uskup juga mengajak semua umat untuk mencintai dan melanjutkan tradisi. Dan oleh karena tradisi itulah maka keuskupan mengambil langkah untuk menghadirkan sebuah patung duplikat dari Tuan Ma agar tradisi tetap langgeng dan devosi tetap berjalan.

Kehadiran patung duplikat ini diharapkan tidak menggoncangkan iman dan tidak membuat kita melihat bahwa tradisi kita sudah bergeser. Kehadiran patung duplikat Tuan Ma akan mulai mendampingi patung asli Tuan Ma yang tidak lagi berjalan keliling untuk mengintari kota karena kerapuhan patung tersebut. Patung asli akan tetap ditahtahkan di kapela Tuan Ma sehingga devosi kepada Maria melalui patung asli Tuan akan tetap dijalankan seperti biasa, hanya yang berjalan keliling adalah patung duplikat.

Perayaan pemberkatan yang dihadiri oleh Ribuan Umat Katolik ini berlangsung dalam suasana yang khidmat dan berjalan dengan aman dan lancar dengan penjagaan yang ekstra dari petugas keamanan dalam hal ini Polres Flores Timur dan juga Polisi Pamong Praja Kabupaten Flores Timur.

Seusai perayaan pemberkatan,  duplikat patung Tuan Ma ini diarak menuju kapela Tuan Ma selanjutnya untuk ditahtakan. Ribuan umat begitu khusuk berdoa dan bernyanyi mengiringi perarakan prosesi Tuan Ma menuju kapela Tuan Ma.

Duplikat patung Tuan Ma ini akan digunakan pada saat perarakan prosesi Jumat Agung tanggal 06 April 2012 yang akan datang. Sedang patung asli Tuan Ma akan tetap ditahtakan di Kapela Tuan Ma. (Emanuel Fernandez)

 

Sumber : Flores Bangkit

29 Mar 2012

PS Surabaya Kalahkan Perseftim

Posted by Hans Hallan. No Comments

Perseftim Flores Timur langsung takluk dalam pertandingan perdana kualifikasi Divisi II Nasional dari PS Surabaya Muda. Dalam pertandingan yang digelar di Tuban, Rabu (28/3/2012), PS Surabaya menang 1-0.

Pelatih kepala Perseftim, Zeth Adoe, usai pertandingan mengatakan, pertandingan berlangsung menarik. PS Surabaya Muda, yang mendapat dukungan dari penonton berusaha menekan anak- anak Perseftim. Namun upaya mereka selalu kandas di lini belakang Perseftim.

Perseftim sendiri bermain sangat bagus. Meski kondisi lapangan yang berpasir dan tidak mendukung alur bola, namun para penyerang Perseftim seperti Cholid Mawardi, Rahman Abubakar, Ito Fernandez, Mad Kikong dan lainnya bermain cukup bagus. Perseftim benar-benar menguasai jalannya pertandingan ini. Namun, di babak kedua PS Surabaya yang justru menjebol gawang Perseftim.

Saat ketinggalan, Perseftim melakukan serangan total. Namun, rupanya wasit kurang bersahabat dengan mereka. Aksi diving yang dilakukan pemain-pemain PS Surabaya Muda, membuat mereka selalu kesulitan masuk ke pertahanan lawannya. Meski kalah, namun Zeth Adoe tetap optimis timnya masih bisa bersaing.

Petang ini, Kamis (29/3/2012), Perseftim akan bertemu tim tuan rumah, PS Tuban. “Pertandingan akan berat, karena selain melawan pemain, kami juga harus melawan penonton dan wasit. Lapangan juga sangat buruk. Lapangan berada di pantai sehingga berpasir. Meski demikian, ini bukan halangan. Anak-anak siap memetik poin sebagai bekal untuk melawan PS Palangkaraya dan juga di putaran kedua,” kata Zeth Adoe.

Perseftim akan bergabung bersama, PS Palangkaraya, PS Surabaya Muda dan PS Tuban. Putaran pertama dimainkan di Tuban, sedangkan putaran kedua di Surabaya. Juara dan runner-up grup ini akan langsung lolos ke Divisi I.

Penulis : sipri_seko
Editor : sipri_seko
Sumber : tribunnews

29 Mar 2012

85 Persen Tiket Konser ‘Heart for NTT’ Ludes

Posted by Hans Hallan. No Comments

Konser Amal Heart for NTT rupanya mendapat sambutan hangat masyarakat. Menjelang pergelaran pada 31 Maret 2012, lebih dari 85 persen tiket habis terjual. Acara yang digagas oleh Yayasan Tunas Mulia Adi Perkasa dan sekolah musik SevenStrings ini menghadirkan orkestra yang dipimpin oleh Aminoto Kosin, musisi Sandhy Sondoro, Dira Sugandi, Gabriel Harvianto, Oktav Tumbel, dan Song Solnamoo pemain flute dari Korea.

“Beberapa jenis tiket sudah habis terjual sejak minggu lalu. Kami optimistis tiket bakal habis terjual,” kata Direktur Program konser amal Heart for NTT, Erlyna Widjaya, yang sekaligus bertanggung jawab untuk penjualan tiket, dalam siaran persnya, Selasa 27 Maret 2012.

Konser amal bakal berlangsung di Auditorium Eagle, The Kuningan Place di kawasan Kuningan Jakarta, 31 Maret 2012. Acara ini bertujuan menggalang dana untuk proses transformasi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Komitmen bagi transformasi NTT ini berawal dari keterlibatan yayasan sejak empat tahun lalu di dusun kecil bernama Koko. Salah satunya dengan membangun sarana dan kualitas pendidikan serta kesehatan.

Pengisi acara akan menyanyikan sebagian besar lagu dalam bahasa Indonesia. Dalam acara yang dipandu Choky sitohang ini, 17 anak-anak dari Dusun Koko juga ikut tampil menyanyi.

“Konser amal selalu mempunyai makna khusus yang jauh berbeda dari konser hiburan. Saat kita bisa melihat hidup seseorang berubah, itu adalah momen yang tak terlupakan,” kata Aminoto Kosin yang menjadi music director konser ini.

Konser amal Heart for NTT yang diadakan Sabtu mendatang ini menjadwalkan dua kali pertunjukan, yaitu pukul 10.00 dan 19.30. Harga tiket untuk pertunjukan pagi hari dijual dengan harga silver Rp 500 ribu, gold Rp 750 ribu, platinum Rp 1,5 juta, dan diamond Rp 2,5 juta. Pada malam harinya konser diadakan mulai pukul 19.30. Harga tiketnya untuk silver adalah Rp 750 ribu, gold Rp 1 juta, platinum Rp 3 juta, dan diamond Rp 5 juta.

Pertunjukan konser amal ini menggabungkan musik, lagu, dan tari yang menggambarkan keindahan Indonesia dan potensinya yang besar, serta gambaran masa depan yang gemilang. Acara berdurasi sekitar 120 menit ini melibatkan sedikitnya 100 pemain musik, penari, koreografer, penata artistik, dan kru panggung.

NIEKE INDRIETTA

 

Sumber : Tempo.co

21 Nov 2011

Batik NTT di KTT Asean Bali

Posted by Hans Hallan. 3 Comments

Batik yang dikenakan Presiden AS Barack Obama, SBY dan para pemimpin Asean di KTT Asean Bali oleh banyak kalangan kita diyakini bermotif tenun ikat NTT, namun jika merujuk pada pemberitaan di beberapa media bukan bermotif NTT tapi motif NTB dan Bali.
Batik KTT ini dirancang oleh Alleira Batik. Pada laman Okezone, 01 November 2011

(http://lifestyle.okezone.com/read/2011/11/01/29/523462/alleira-siapkan-36-batik-motif-tenun-bali-ntb) diberitakan …. Alleira diminta membuat kreasi batik bermotif tenun Bali dan NTB pada forum kenegaraan yang dilaksanakan 17-19 November 2011. Motif gringsing, parang, paisley, patchwork, dan logo Alleira akan menghiasi busana yang dirancang. Warna yang digunakan terang dan menjadi ciri khas Alleira, seperti biru, oranye, dan hijau. “Unsur tradisional selalu kita gunakan, meskipun hanya sedikit. Masing-masing motif punya filosofinya. Terlepas dipakai atau tidak, pihak Istana memberikan arahan demikian. Permintaan lebih detail biasanya diberikan paling lambat seminggu sebelum acara,” tambahnya. (periksa juga http://lifestyle.okezone.com/read/2011/11/02/29/523655/hadiri-ktt-asean-barack-obama-akan-diberi-batik-biru)
Yang paham dunia motif traditional saya kira perlu untuk mendiskusikan ini, sebab meskipun awam saya pribadi meyakini betul bahwa ini motif NTT bukan NTB apalagi Bali. Apakah ini kekalahan telak kita (orang NTT) di kancah lobby dan branding ? Ironi ….

Faris Wangge

19 Nov 2011

Korupsi di Flores Timur

Posted by Hans Hallan. No Comments

KORUPSI DI FLORES TIMUR YANG TELAH DILIMPAHKAN KE KEJAKSAAN NEGRI LARANTUKA

1. Pengadaan dan pemasangan Generator Set (Genset), senilai Rp.16 miliar, Tahun Anggaran 2003, 2004 dan 2005.
2. Pembangunan PT.Larantuka Hotel dan Transportasi Tahun Anggaran 2003, 2004.
3. Rehabilitasi gedung PUSTU Kelurahan Lokea Tahun Anggaran 2004.
4. Pembangunan PUSKESMAS Oka Tahun Anggaran 2004.
Read the rest of this entry »

11 Nov 2011

Cerita Inspiratif: “AKAN KUGENDONG ENGKAU SAMPAI AJAL TIBA”

Posted by Hans Hallan. 2 Comments

posted By:
Inno Ngutra dan Agustinus Takndare di Mempartanggung-jawabkan Iman Katolik ·

(Terjemahan bebas dari kisah yang diposting oleh saudara Jeffry Wilmart)

Sapaan seorang sahabat,

Mungkin Anda akan mencapku sebagai seorang romo yang terlalu cengeng, tapi aku tidak mau menyembunyikan gejolak perasaan kemanusiaanku ketika mencoba membaca dan menterjemahkan kisah ini dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan mudah untuk dimengerti. Beberapa kali aku harus berhenti sejenak, merenung bahkan tak terasa rasa sedih menyelimuti seluruh tubuhku atas sentuhan kata-kata yang terangkai dalam kalimat-kalimat penuh makna dalam kisah ini.

Semoga saja kisah ini menjadi bahan pembelajaran bagi teman-teman yang baik sedang merencankan untuk menikah, yang telah hidup dalam pernikahan, tapi terlebih untuk teman-teman yang mengalami goncangan dalam hidup perkawinan mereka saat ini. Percayalah…Tuhan sedang menegur dan mengingatkanmu akan keutuhan dan kekudusan pernikahan lewat kisah yang sedang Anda baca ini.

AKAN KUGENDONG ENGKAU SAMPAI AJAL TIBA

Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku, sambil memegang tangannya aku berkata; “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk disamping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Dari raut wajah dan matanya kutahu dia sedang memendam luka batin yang membara.

Read the rest of this entry »

31 Oct 2011

PERNYATAAN MANADO

Posted by Hans Hallan. No Comments

Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) dengan ini menyatakan keprihatinan yang mendalam atas situasi kebangsaan Indonesia, khususnya nilai-nilai eksistensi kebhinekaan yang mulai luntur di tengah masyarakat. Bangsa Indonesia yang dibangun oleh para pendiri bangsa dari nilai-nilai kemajemukan sedang dalam kondisi sakit.

Nilai-nilai kemajemukan bangsa tergoyahkan dengan munculnya beberapa kasus-kasus yang menciderai nilai-nilai kebhinekaan bangsa ini. Kegagalan pemerintah dalam menjaga nilai-nilai toleransi yang selama ini hidup dan berkembang dengan baik di akar rumput menunjukkan ketidakberdayaan sekaligus sikap diam yang ditunjukkan pemerintahan saat ini.

Read the rest of this entry »