21
Nov
2011
Posted by Hans Hallan. 1 Comment
Batik yang dikenakan Presiden AS Barack Obama, SBY dan para pemimpin Asean di KTT Asean Bali oleh banyak kalangan kita diyakini bermotif tenun ikat NTT, namun jika merujuk pada pemberitaan di beberapa media bukan bermotif NTT tapi motif NTB dan Bali.
Batik KTT ini dirancang oleh Alleira Batik. Pada laman Okezone, 01 November 2011
(http://lifestyle.okezone.com/read/2011/11/01/29/523462/alleira-siapkan-36-batik-motif-tenun-bali-ntb) diberitakan …. Alleira diminta membuat kreasi batik bermotif tenun Bali dan NTB pada forum kenegaraan yang dilaksanakan 17-19 November 2011. Motif gringsing, parang, paisley, patchwork, dan logo Alleira akan menghiasi busana yang dirancang. Warna yang digunakan terang dan menjadi ciri khas Alleira, seperti biru, oranye, dan hijau. “Unsur tradisional selalu kita gunakan, meskipun hanya sedikit. Masing-masing motif punya filosofinya. Terlepas dipakai atau tidak, pihak Istana memberikan arahan demikian. Permintaan lebih detail biasanya diberikan paling lambat seminggu sebelum acara,” tambahnya. (periksa juga http://lifestyle.okezone.com/read/2011/11/02/29/523655/hadiri-ktt-asean-barack-obama-akan-diberi-batik-biru)
Yang paham dunia motif traditional saya kira perlu untuk mendiskusikan ini, sebab meskipun awam saya pribadi meyakini betul bahwa ini motif NTT bukan NTB apalagi Bali. Apakah ini kekalahan telak kita (orang NTT) di kancah lobby dan branding ? Ironi ….
Faris Wangge
19
Nov
2011
Posted by Hans Hallan. No Comments
KORUPSI DI FLORES TIMUR YANG TELAH DILIMPAHKAN KE KEJAKSAAN NEGRI LARANTUKA
1. Pengadaan dan pemasangan Generator Set (Genset), senilai Rp.16 miliar, Tahun Anggaran 2003, 2004 dan 2005.
2. Pembangunan PT.Larantuka Hotel dan Transportasi Tahun Anggaran 2003, 2004.
3. Rehabilitasi gedung PUSTU Kelurahan Lokea Tahun Anggaran 2004.
4. Pembangunan PUSKESMAS Oka Tahun Anggaran 2004.
Read the rest of this entry »
11
Nov
2011
Posted by Hans Hallan. No Comments
posted By:
Inno Ngutra dan Agustinus Takndare di Mempartanggung-jawabkan Iman Katolik ·
(Terjemahan bebas dari kisah yang diposting oleh saudara Jeffry Wilmart)
Sapaan seorang sahabat,
Mungkin Anda akan mencapku sebagai seorang romo yang terlalu cengeng, tapi aku tidak mau menyembunyikan gejolak perasaan kemanusiaanku ketika mencoba membaca dan menterjemahkan kisah ini dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan mudah untuk dimengerti. Beberapa kali aku harus berhenti sejenak, merenung bahkan tak terasa rasa sedih menyelimuti seluruh tubuhku atas sentuhan kata-kata yang terangkai dalam kalimat-kalimat penuh makna dalam kisah ini.
Semoga saja kisah ini menjadi bahan pembelajaran bagi teman-teman yang baik sedang merencankan untuk menikah, yang telah hidup dalam pernikahan, tapi terlebih untuk teman-teman yang mengalami goncangan dalam hidup perkawinan mereka saat ini. Percayalah…Tuhan sedang menegur dan mengingatkanmu akan keutuhan dan kekudusan pernikahan lewat kisah yang sedang Anda baca ini.
AKAN KUGENDONG ENGKAU SAMPAI AJAL TIBA
Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku, sambil memegang tangannya aku berkata; “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk disamping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Dari raut wajah dan matanya kutahu dia sedang memendam luka batin yang membara.
Read the rest of this entry »
31
Oct
2011
Posted by Hans Hallan. No Comments
Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) dengan ini menyatakan keprihatinan yang mendalam atas situasi kebangsaan Indonesia, khususnya nilai-nilai eksistensi kebhinekaan yang mulai luntur di tengah masyarakat. Bangsa Indonesia yang dibangun oleh para pendiri bangsa dari nilai-nilai kemajemukan sedang dalam kondisi sakit.
Nilai-nilai kemajemukan bangsa tergoyahkan dengan munculnya beberapa kasus-kasus yang menciderai nilai-nilai kebhinekaan bangsa ini. Kegagalan pemerintah dalam menjaga nilai-nilai toleransi yang selama ini hidup dan berkembang dengan baik di akar rumput menunjukkan ketidakberdayaan sekaligus sikap diam yang ditunjukkan pemerintahan saat ini.
Read the rest of this entry »
16
Oct
2011
Posted by Hans Hallan. No Comments
STIGMA NTT MISKIN HARUS DIHILANGKAN (Dari acara makan malam bersama Gubernur NTT, Frans Leburaya)

Gubernur NTT, Frans Leburaya (Sabtu,15/10/2011), mengadakan jamuan makan malam bersama keluarga besar Flobamora Bali di Restaurant Tangie Denpasar. Di kesempatan itu, beliau banyak bercerita tentang NTT, dari isu Rawan Pangan hingga Desa Mandiri Anggur Merah, dari kehadirannya di Rapat Kabinet Indonesia Bersatu hingga seruan Gerakan Pulang Kampung (GPK), dari Provinsi Jagung, Koperasi, Ternak, Cendana hingga Provinsi Kepulauan.
Di bawah ini kami turunkan petikan sambutannya:
“Saya jarang datang ke Bali juga Jakarta, banyak waktu saya habiskan di NTT. Saya bersyukur bisa bertemu dengan Bapak Ibu di Bali. Pada kesempatan ini saya ingin bercerita tentang NTT dari waktu ke waktu” Ujarnya memulai.
Read the rest of this entry »
6
Oct
2011
Posted by Hans Hallan. No Comments
Doa Rosario: Doa kepada atau melalui Maria dengan mendaraskan 150 kali Salam Maria sambil merenungkan peristiwa-peristiwa inti hidup Yesus dan Maria sambil menghitung biji rosario
Kebiasaan berdoa dengan menggunakan hitungan biji-bijian sudah sangat tua usianya.
Orang Peru kuno sudah memakai hitungan manik-manik dalam doa mereka
Di Ninive (abad IX BC) ditemukan angka pahatan yang memperlihatkan sebuah untaian manik-manik
Orang Islam, Hindu, Budha di Cina, India , dan Jepang sudah lama mengenal kebiasaan berdoa sambil memakai hitungan biji-bijian
Umat Islam, khususnya mengenal doa yang disebut “doa tasbih”, yaitu doa yang terdiri atas sebuah untaian 99 butir untuk menyebut nama Allah yang Mahaesa
Tasbih yang sama sudah ada pada umat Kristen Timur (Yunani) sejak lama yang mengulang-ulang doa pendek tertentu dengan menyebut nama Allah dan Yesus Kristus
Rangkaian doa tasbih ditemukan dalam kubur Santa Getrudis dari Nivella pada abad yang ke IV
Para pertapa di padang gurun dulu juga biasa memakai hitungan biji tasbih dalam doa mereka. Para pertapa itu mempunyai sebuah bakul yang berisikan kelereng yang berfungsi untuk menghubungkan doa-doa mereka yang mereka ucapkan setiap hari
Itu berarti, pemakaian hitungan biji tasbih dalam doa-doa sudah sangat tua usianya dan merupakan suatu gejala umum pada setiap agama, dan umumnya bertujuan untuk menghitung doa-doa tertentu sehingga mudah didaraskan bersama dan untuk menciptakan konsentrasi waktu berdoa.
Read the rest of this entry »
3
Oct
2011
Posted by Hans Hallan. No Comments
Kupang (ANTARA News) – Anggota Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Nusa Tenggara Timur, Herman Banoet, mengaku biaya pembangunan di wilayah kepulauan ini hingga saat ini masih didominasi dana perimbangan dari pemerintah pusat.
“Jika dibuatkan perbandingannya maka dana perimbangan yang berasal dari pemerintah pusat mencapai 76 persen berbanding 24 persen dana perimbangan yang dialokasikan dari daerah,” katanya di Kupang, Senin, terkait alokasi anggaran untuk membiayai pembanungan di daerah ini.
Banoet yang pernah menjabat kepala Biro Keuangan Sekretariat Daerah NTT itu, mengatakan untuk perbandingan dana pembangunan telah diatur antara 90-95 persen berasal dari pemerintah pusat, sedangkan sisanya 5-10 persen berasal dari kabupaten/kota.
Read the rest of this entry »
1
Oct
2011
Posted by Hans Hallan. No Comments
Asosiasi pembantu rumah tangga Indonesia di Hong Kong menyambut baik putusan Pengadilan Tinggi Hong Kong yang mengabulkan gugatan seorang pembantu Filipina terkait peraturan yang tidak mengizinkan pembantu rumah tangga asing menjadi penduduk tetap.
Wakil Ketua Asosiasi TKI (ATKI) di Hong Kong Iweng Karsiwen mengatakan putusan ini telah lama ditunggu-tunggu.
“Itu sudah menjadi tuntutan kita sejak lama, salah satu sikap diskriminasi pemerintah Hong Kong,” kata Iweng kepada BBC Indonesia.
Dengan putusan ini pembantu rumah tangga di Hong Kong memiliki pilihan.
“Tidak seperti dulu karena pembantu rumah tangga tidak bisa menjadi resident (penduduk tetap), sekarang kita punya pilihan menjadi resident atau hanya bekerja di sini,” tambahnya.
Iweng Karsiwen berharap putusan pengadilan ini bisa diterapkan secepatnya oleh pemerintah Hong Kong.
Pengadilan Tinggi Hong Kong hari Jumat (30/9) memutuskan peraturan yang melarang pembantu rumah tangga menjadi warga tetap tidak konstitusional.
Jumlah pembantu rumah tangga di Hong Kong mencapai hampir 300.000, sebagian besar dari Filipina dan Indonesia.
Read the rest of this entry »
1
Oct
2011
Posted by Hans Hallan. No Comments
Kelelahan
Orang-orang yang sedang depresi mengalami serangkaian perubahan fisik dan emosional. Mereka dapat menjadi cepat lelah, serta mengalami perlambatan pada psikomotor, atau perlambatan gerakan fisik, ucapan, dan proses berpikir.
Menurut Josh Klapow, PhD, seorang psikolog klinis pada Sekolah Kesehatan Masyarakat di Birmingham – Inggris, di bandingkan dengan wanita, pria lebih sering rentan mengalami gejala kelelahan fisik sebagai keluhan utama saat mengalami depresi.
Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit
Masalah tidur-seperti insomnia, bangun sangat awal di pagi hari, atau tidur yang berlebihan adalah gejala depresi yang umum terjadi.
Beberapa orang walaupun tidur selama 12 jam dalam sehari, masih merasa lelah.” kata Dr Cook. Sama seperti kelelahan, kesulitan tidur adalah salah satu gejala utama yang sering dikeluhan pria yang sedang depresi pada dokter mereka, demikian menurut para ahli.
Read the rest of this entry »
1
Oct
2011
Posted by Hans Hallan. No Comments
Larantuka hingga saat ini masih memelihara sebuah ritus keagamaan yang begitu dikagumi dan dicintai (admiranda et Amanda) baik oleh anak-anak nagi (orang Larantuka) maupun yang bukan orang asli. Keberakarannya pada ritus ini sudah tertanam sejak kedatangan bangsa portugis pada tahun 1552 yang mengusung misi: Gold (mencari rempah), Gospel (menyebarkan agama), Glory (memperjuangkan “nama besar dalam hegemoni kekuasaan”). Seiring waktu yang terus bergulir dan dalam pergulatan dengan aneka tantangan, prosesi akbar ini telah membentuk cita rasa iman (sensus fidelium) umat yang berakar kuat pada devosi kepada Bunda Maria. Umat Larantuka memberikan atensi yang luar biasa kepada devosi Bunda Maria dan ini sudah menjadi devosi populer. Devosi kepada Bunda Maria begitu melekat kuat dalam religiositas umat yang mengerucut pada prosesi akbar Jumat Agung, di mana umat bersama Bunda Maria, Mater Dolorosa (Bunda Yang Berduka cita) mengikuti Sang Putera sepanjang tapak-tapak duka via dolorosa.
Sebuah Awal yang Sederhana
Menurut catatan sejarah, prosesi itu merupakan ibadah keagamaan warisan bangsa Portugis sejak abad IV ketika misi Solor sudah mendirikan banyak stasi, dan Larantuka adalah salah satu stasi waktu itu. Prosesi yang dicetuskan oleh para pastor Dominikan ini awalnya diadakan dalam bentuk yang amat sederhana, namun umat memberikan tanggapan positif dan mengikuti jalannya prosesi dengan entusiasme keimanannya. Umat yakin dan percaya bahwa Bunda Maria-lah yang telah memberikan perlindungan terhadap kota Larantuka dari serangan lawan, bangsa Belanda. Keyakinan inilah yang menggugah nurani kesadaran raja Don Lorenzo Diaz Viera Diego Dinho untuk tidak hanyut terbawa arus “nama besar” di atas penderitaan orang lain, ataupun tenggelam dalam kediktatoran dan arogansi kekuasaan yang represif melainkan bersimpuh pada kerendahan hati dan kepasrahan: menyerahkan tongkat kerajaan dan kota Larantuka ke dalam tangan Bunda Maria Reinha Rosari pada tanggal 08 September 1888 sebagai tempat bernaung kala suka dan duka (Karel Steenbrik, Orang-orang Katolik di Indonesia: 163). Lantas Larantuka dikenal sebagai kota Reinha. Inilah simpul sejarah yang membingkai prosesi akbar ini. Prosesi ini melibatkan peran aktif kaum awam yang telah dibentuk oleh P. Sanders pada tahun 1860 dengan nama Konfreria, sebuah organisasi kerasulan awam yang bertugas membantu imam dalam liturgi terutama dalam mengatur segala persiapan prosesi selama pekan suci. Paguyuban ini merupakan lembaga religius terpenting di Kerajaan Larantuka pada waktu itu bahkan hingga kini.
Read the rest of this entry »