« Older Entries Newer Entries » Subscribe to Latest Posts

27 Sep 2011

Makanan Pencegah Osteoporosis

Posted by Hans Hallan. No Comments

Meskipun industri susu telah berusaha meyakinkan setiap orang akan pentingnya produk susu untuk menghindari osteoporosis, namun beberapa penelitian tidak sepenuhnya mendukung gagasan tersebut. Adalah lebih penting untuk mengindari konsumsi berlebihan dari gula, soda, garam meja, kopi, alkohol serta mengkonsumsi makanan tinggi kalsium, magnesium, vitamin K and boron. Berikut ini adalah beberapa makanan yang dianjurkan untuk menjaga serta memelihara tulang agar tetap sehat.

Kacang Hijau: Kacang hijau sangat kaya akan vitamin K, nutrisi yang secara tidak langsung mengaktifkan Osteokalsin, protein utama dalam tulang. Selain vitamin K, kacang hijau juga mengandung Vitamin B6 serta folat, dua nutrisi yang menghambat homosistein, sebuah molekul berbahaya yang mencegah kolagen dalam pembentukan serta pertumbuhan tulang.

Brokoli: Sayuran yang kaya akan magnesium, kalsium, vitamin K, vitamin B6, folat serta vitamin C yang baik untuk penyerapan kalsium. Brokoli memiliki semuanya dalam menjaga kesehatan tulang.

Selada: Selada mengandung nutrisi trifekta yaitu Kalsium, Vitamin K dan Boron yang menjaga kesehatan tulang.

Kubis: Kubis sangat tinggi akan kandungan vitamin K, folat dan vitamin B6 yang sangat penting untuk kesehatan tulang. Kubis juga mengandung kalsium serta vitamin C yang secara signifikan dalam meningkatkan penyerapan kalsium.

Bayam: Bayam kaya akan vitamin K dan folat dan juga vitamin B6, magnesium dan kalsium.

Lemon: Meskipun asam yang terdapat pada lemon memiliki efek alkalizing pada tubuh bila dimakan, namun kandungan yang tinggi akan vitamin C sangat diperlukan untuk meningkatkan penyerapan kalsium.

Selamat menjaga kesehatan tulang anda.

sumber : huffingtonpost.ca

9 Aug 2011

Larantuka

Posted by Hans Hallan. 1 Comment

Kabupaten Flores Timur dibentuk berdasarkan UU No. 69 Tahun 1958 tertanggal 20 Desember. Maka ulang tahun Kabupaten Flores Timur ditetapkan setiap tanggal 20 Desember. Saat ini, Flores Timur terdiri dari 18 kecamatan berdasarkan PERDA Kab. Flores Timur No. 2 Tahun 2006. Di Tahun 1999, Flores Timur pernah terdiri dari 7 kecamatan saja, semenjak awal berdiri dengan 8 kecamatan. Disebabkan UU No. UU no 52 tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Lembata. Menyebabkan 6 kecamatan yang berada di Pulau Lembata harus dilepaskan dari 13 kecamatan. Terakhir Pulau Solor akan dimekarkan menjadi 3 kecamatan. Kecamatan Solor Selatan.

17 Jul 2011

Mitos asal Pati Golo Arakian

Posted by Hans Hallan. No Comments

Sejarah Manusia Pertama yang mendiami Flores Timur daratan, dari berbagai versi, dapat dipastikan berasal dari 2 orang keturunan Gunung Ile Mandiri [Gunung di Larantuka], yaitu Lia Nurat dan saudari perempuannya Wato Wele. Yang kemudian dari kedua keturunan inilah masyarakat Flores timur daratan tersebar. Memang harus diakui bahwa tentang asal usul dan keturunan dari kedua orang ini, begitu banyak versi di masing-masing suku dan daerah. Namun demikian Mitos, ia hadir dalam aturan-aturannya tersendiri yang memang berangkat dari budaya tutur. Berikut ini salah satu versinya

Di atas gunung Wato Wela Dot, Tabu Wela Molit [sebuah kampung di pulau Timor], hidup dua orang bersaudara. Laki-laki bernama Pati Golo Arakian dengan saudarinya Bui Kena Hara Wada. Aktivitas Pati Golo aban pagi dan malam adalah menyadap tuak dari pohon Lontar. Sedangkan saudarinya adalah penenun.

Oleh karena sering mendapat tuak asam, maka Bui Kena, suatu malam memukul kepala Pati dengan pedang tenunnya dan meninggalkan luka yang dalam. Pati menangis, penjelasannya bahwa selalu saja Kelelawar merusak dan merobek daun pembuluh penutup tempat air nira mengalir ke penadah dari Bambu, sebagai penyebab asamnya tuak, tak dihiraukan saudarinya.

Pada hari yang sama, Patipun melakukan rutinitasnya. tetap ia tak turun dari Lontar itu. Dia ingin menangkap sumber penyebab asamnya tuak. Kelewarpun datang, malah memeluknya dan terbang bersama Pati ke timur. Disana, di timur kelelawar menjatuhkannya. Saat ini mereka berdua masih kecil.

Cukup lama Pati berkelana. Ia mengembara ke timur tanpa tujuan. Dari pantai ke pantai, dari pulau ke pulau. Akhirnya ia tiba di gunung Wato Wela Dot, Tabu Wela Molit. Ia bertemu kembali dengan saudarinya Bui Kena. Sayangnya mereka sudah tak saling kenal. Maka mereka berduapun menjadi suami istri. Suatu malam saat sang istri meminyaki rambutnya, ditemukanlah bekas luka di kepala Pati. Akhirnya sadarlah mereka sebagai saudara kandung. Bui Kena malu luar biasa. Patipun akhirnya meninggalkan tempat itu dan menuju jauh kebarat.

Menetaplah ia di Sina Jawa. [Versi lain dari Paul Arndt, tempat itu adalah sekitar pulau Sumatera]. Dan mengawini Sidi Lae, Sidi Lae Ata Molan, putri raja. Suatu ketika, ketika kelahiran anak pertamanya, Pati membakar Cendana, seperti kebiasaan di Timor. Rajapun sangat menyukai bau yang sangat harum itu. Dan meminta Pati untuk memberikannya kepada Sang Raja, sebagai hadiah perkawinannya. tetapi karena persediaannya terbatas, maka Pati pun menceritakan dimana sumber kayu Candana itu, yaitu jauh di Timur di daerah asalnya.

Maka rajapun mengirim Pati Golo Arakian untuk mengambil Kayu Cendana. Ia berangkat ke itmur menggunakansebuah kapal. Pada titik ini, berdasarkan sejarah, bahwa sekitar tahun 1357, armada perang Majapahit di kirim ke Solor-Alor, dan memang saat itu pulau Pantar dan sebagian Flores Timur direbut.
Dalam perjalanan menuju kampung asalnya, ia melihat cahaya api yang terang benderang di puncak sebuah Gunung, gunung itu Ile Mandiri. Karena tertarik, Pati mendaki ke gunung itu. Di sana ia menemukan sebuah tungku dan periuk besar, disekitarnya berserakan berbagai tulang. Karena tak menemukan seorangpun manusia, maka Pati naik ke sebuah pohon besar dan mengintai.

Tak lama berselang munculah satu makhluk mendekati api, dan di bawah ketiaknya, ia mengapit beberapa binatang. Dia adalah Wato Wele, saudari dari Lia Nurat yang dilahirkan dari gunung. Ketika hendak menyalakan api dari batu yang digesek, apipun tak menyala. Maka mendonggaklah ia dan melihat Pati. Dimintanyalah pati untuk turun. Tapi karena takut akan berbagai binatang, maka setelah meminta Wato Wele membuang beberapa jenis binatang yang berbahaya, dan ketika terseisah hanya Bai Utan, Rusa dan Landak, Pati pun turun membantu menyalakan api. Akhirnya mereka berdua memanggang binatang yang tersisah itu.

Pati sangat heran ketika Wato Wele mencabik-cabik binatang yang telah matang itu dengan kuku-kuku jarinya yang panjang. Setelah makan, Pati mengeluarkan Arak. Karena sangat penasaran, Wato Wele meminum sangat banyak dan tertidurlah ia karena mabok. Karena keingintahuannya akan sosok Wato Wele, Pati kemudian mencukur seluruh rambut dan bulu yang ada di tubuh perempuan itu. Terkejutlah ia ketika menyadari bahwa mahkluk itu adalah perempuan. Ketika siuman, karena kedinginan, Wato Wele menggigil dan menyebabkan seluruh Ile Mandiri bergoyang.

Pati Golo Arakian menetap dan memperistri Dona Wato Wele. Anak mereka yang pertama, laki-laki bernama Kudi Lelen Bala, Au Gatek Mata, yang mendirikan Kampung Waibalun. Anak ke 2 juga laki-laki Lalapan Doro Duli. Anak ketiga bernama Sira Demon Pago Molan, yang kemudian menjadi Raja Larantuka yang pertama.
Dari arah barat, istri kedua Pati Golo, Sidi Lae Ata Molan, menyuruh anak-anaknya mencari sang ayah. Merekapun akhirnya menetap di Larantuka. Juga ketika pulau Lapan dan Batan tenggelam [seratus tahun sejak 1357], keturunan dari istri pertamanya, Bui Kena Hara Wada, tiba di Larantuka mencari sang ayah. Keturunan ini kemudian dikenal sampai sekarang dengan sebutan “yang terdampar dengan perahu” [Tena Mau]. Sumber Raran Tonu Wujo, Karl-Heinz Kohl, cetakan I-Ledalero 2009.

Sumber: East Flores Lamaholot

16 Jul 2011

Flores

Posted by Hans Hallan. No Comments

Sesudah menaklukkan Malaka, wakil raja Alfonso de Albuquerquer mengirim sebuah armada kecil dibawah pimpinan Antonio de Abreu untuk mencari jalan laut menuju pulau rempah-rempah [Maluku]. Agaknya para anggota ekspedisi inilah yang menamakan pulau yang disinggahi [Cabo des flores]. Sekurang-kurangnya dalam peta dunia yang dipublikasi oleh Mercator di tahun 1569, Flores sudah menempati posisi penting diantara pulau-pulau yang terletak disebelah timur Malaka.

Nama Flores sudah pasti ada sejaka 1544, menurut C.C.F.M Le Roux malah sudah dapat ditunjukkan sejak 1512. Mula-mula hanya ditujukan untuk Tangjung Bunga. Dan sejak tahun 1636 oleh orang Belanda digunakan untuk seluruh pulau. Namun menurut P Saren Orinbao, nama purba Flores adalah Nusa Nipa [Nipa=Ular].

Namun dapat dipastikan bahwa yang telah menemukan pulau ini adalah Kerajaan Majapahit dalam abad ke 14. Ditahun 1365 dalam buku Negara Kartagama, sudah dicantumkan pulau diwilayah ini sebagai bagian dari Majapahit. Maka setidknya Flores merupakan sedikitnya nama pemberian negara kolonial ratusan lalu dan masih digunakan hingga saat ini. Dan Flores Timur merupakan satu-satunya kabupaten se Flores yang tetap menggunakan nama Flores.

Sumber: East Flores Lamaholot

15 Jul 2011

Penghuni Awal Larantuka

Posted by Hans Hallan. No Comments

Cerita/mitos tentang asala muasal penghuni Larantuka, sejauh ini begitu banyak versi dan bisa jadi tidak banyak yang mengetahui , apalagi generasi kini. Olehnya berikut ini di munculkan salah satu versinya.

Jauh di atas, di puncak Ile Mandiri burung Elang berwarna coklat dan burung rajawali berwarna abu-abu meletakkan telurnya. Ketika telur-telur itu terbuka, muncullah dua anak kembar. Saudara laki-laki bernama Koda Lia Nurat Ulu Nura Nama, saudara perempuan bernama Oa Dona Wato Wele. Keduanya hidup sendirian di puncak gunung dan makan buah-buahan pohon dan binatan2 hutan seperti ular dan kadal. Juga kedua orang bersaudara itu adalah orang liar; mereka berbulu dari kepala sampai kaki dan biasanya mencarik mangsa perburuan mereka dengan kuku jarinya.

Pada suatu malam, ketika keduanya sedang menyiapkan makanan, di tepi pantai di bawah Teniban Duli Hadung Bolen melihat nyala api mereka. teniban Duli adalah seorang perempuan keturunan Paji, yang tinggal si sebuah kampung di kaki gunung Ile Mandiri. Nyala api,yang terang seperti bintang, langsung mengenai dadanya. Pada hari berikutnya ia menceritakan penampakkan malam itu kepada saudaranya, SUban Lewan dan meminta dia naik ke puncak gunung untuk memeriksa, entah ada seorang pemuda yang berdiam di atas.

Suban Lewan menyiapkan diri untuk berburu. Ia membunuh banyak binatang dan ketika berkeliling ia menemukan tempat tinggal Liat NUrat. Dekat tempat itu ia bersembunyi di atas sebatang pohon besar. Ketika LIa Nurat sia-sia berusaha menyalakan api, Suban Lewan memperlihatkan diri kepadanya dan menawarkan bentuan, tetapi terdahulu Lia NUrat harus membuang binatang2 perburuannya yang mengerikan itu. Ia turun dari pohon dan berbagi makanannya dengan penghuni gunung itu. Empat hari kemudian ia datang kembali mengunjungi Lia Nurat dan membawanya kedekat rumahnya, lalu menyembunyikannya di dalam hutan lontar miliknya.

Ketika melihat hujan tak kunjung berhenti dan awan turun ke lembah, saudarinya Teniban Duli mengetahui bahwa “anak gunung” (ile anan) berada tidak jauh. Ia menyuruh saudaranya mengantarnya ke tempat persembunyian itu, karena ia hendak mengawininya. Tetaapi Liat Nuratmasih seorang hutan. Bulu yang lebat menjadi pakaiannya dan kuku jarinya adalah senjatanya. Suban Lewan dan saudarinya mengundangnya makan dan membuatnya mabuk dengan tuak pohon lontar. Ketika ia sudah tertidur lelap keduanya mengambil pisau dan memotong kuku2 jarinya dan mencukur bulu seluruh tubuhnya. Ketika ia terjaga dari tidur ia menggigil kedinginan sampai seluruh bumi bergoyang.

Lia NUrat tidak mengenal adat kebiasaan amnusia. sia2 Teniban Duli membetangkan tikar perkawinan untuknya. Baru sesudah ia menunjukkan kepadanya, bagaiman binatang2 hutan kawin, ia mengerti apa yang dikehendaki oleh Teniban Duli darinya. Bersama Teniban DUli ia melahirkan tujuh orang putra. Anak yang pertama bernama Keweluk Ile Alen Kebou Wawe Utan, yang lain bernama Kewaka, Belawa Burak, Bam Powa, Regi Bera dan Mado; anak ketujuh adalah seorang perempuan. Lia Nurat tinggal di kampung iparnya, yang mengajarkan dia bagaimana mengerjakan kebun dan menyadap tuak, Ia mendapatkan hasil limpah dalam segala pekerjaannya. Lia Nurat meninggalkan kammmpung di tepi pantai itu dan pergi ke sebuah kampung di atas gunung. Di situ ia mengambil istri yang kedua, bernama Uta Wata Teluma Burak, berasal dari Maumere. Teniban DUli sangat cemburu. Oleh sebab itu ia menghina pesaingnya ketika keduanya pada suatu ketika sedang saling meminyaki. Karena ganti minyak kelapa ia memakai air gula untuk meminyaki rambut madunya.

Untuk membalas penghinaan terhadap saudarinya mereka, saudara2 Uta Wata memerangi Lia Nurat dan mengalahkannya. Akan tetapi mereka baru dapat membunuh Lia Nurat yang terluka berat itu ketika ia sendiri menyatakan kepada mereka bagaimana cara mereka melaksanakannya. Anak2nya laki2, “anak2 dari gunung” tidak menerima hal itu. mereka berangkat ke Maumere bersenjatakan senjat2 yang terbuat dari besi, yang dibuat dari paku2 yang mereka rampok dari kapal (eropa) dan membunuh banyak musuh mereka.

Pada perjalanan pulang mereka bertemu dengan sekelompok orang Paji yang mengundang mereka minum. Ketika semua orang mabuk oleh tuak, terjadilah perkelahian. Karena orang2 Paji terlalu membanggakan kepahlawanan mereka, maka “anak2 dari gunung” itu mengupas kulit tubuh pemimpin orang Paji itu, menggosok tubuhnya dengan garam dan kapur, lalu mengusir dia ke kampungnya. Dimana2 dengan nyaring ia mengeluhkan apa yang telah dilakukan oleh orang Demon terhadap dirinya. Akibatnya terjadi peperangan besar yang pertama antara Paji dan Demon. Orang Demon mengalahkan orang Paji dan mengusir mereka dari semua kampung di gunung dan pantai wilayah Ile Mandiri. Mereka harus melarikan diri ke Tanjung BUnga dan kemudian ke Adonara. Anak2 Lia Nurat dan Teniban Duli mengambil tanah2 yang ditinggalkan oleh orang Paji. Mereka menjadi bapa2 asal suku, yang mendiami kampung-kampung di sekitar Larantuka, ialah WAi’lolon, Lewo Hala, Leneda, Lewoloba, Watowiti dan Mudakeputu. (Paul Arndt)

Keenam kampung yang disebutkan pada akhir cerita Lia Nurat, dahulu merupakan suatu persatuan kampung2, yang berbatasan langsung dengan tanah suku Larantuka. Persatuan itu adalah yang terpenting dari kesepuluh wilayah inti yang membentuk kerajaan Larantuka dan dinamakan Mudakaputu, sesuai nama kampung utama.

Karl-Heinz Kohl: Raran Tonu Wuju,cetakan I, sept 2009,Penerbit Ledalero
Sumber: East Flores Lamaholot

13 Jul 2011

Perkembangan Katolik di Flores Timur

Posted by Hans Hallan. No Comments

Jurnal pelayaran kapal layar Victoria dan St. Antonio dibawah pimpinan nahkoda ‘del Alcano”, catatan yang di buat oleh seorang bangsawan Italia (penulis) Antonio Pigafetta, tercatat bahwa dalam bulan Januari dan Februari 1522 – dalam perjalanan menuju Madrid kedua kapal dari ekspedisi Magelhaens – telah melewati perairan Alor dan Solor; menyinggahi beberapa pelabuhan di beberapa kepulauan Solor, Alor, Lembata bagian timur dan Bunga Wutun/Cabe da Flora (Flores bagian timur).

Catatan ini tidak jelas menyebutkan dalam persinggahan tersebut terjadi sentuhan iman dan awal penyebaran agama. Namun demikian sudah tentu sekurang-kurangnya dilakukan pewartaan Sabda. Jikapun tidak sampai pada pembaptisan, dapat dipahami mengingat kebiasaan orang Spanyol dan Portugis di masa itu. Termasuk tidak disebutkan persinggahan di Larantuka.

Begitupun catatan lain menyebutkan di tahun 1522 – 1556, terdapat permandian masyarakat pribumi sebanyak 5.000 orang di Timor dan Ende. Juga permandian di Solor dan Savoe Pequene (Sabu Kecil). Inipun tidak menyebutkan tentang Larantuka. Tahun 1529, oleh Sri Paus, wilayah Solor dan Timor diesrahkan kepada misionaris Portugis untuk penyebaran agama Katolik.

Tahun 1556, dalam suatu pelayaran ke Lohayong di Solor, Paderi ANTONIO TAVEIRA OP (dari Ordo Dominikan) singgah sebentar dipantai LABONAMA (Lewonama/di Lokea Larantuka – sekarang Lohayong) dan mempermandikan orang. Hal ini berarti untuk pertama kali tercatat tentang : permandian orang Larantuka.

Dalam sutu serangan gabungan antara kompeni Belanda (VOC) dengan penduduk pribumi (1613), pusat perdagangan Portugis dan pusat Misi Solor porak-poranda, sehingga terpaksa berpindah dari Lohayong Solor ke Larantuka, di tempat yang kemudian dikenal dengan nama Postoh.

Setelah Belanda dan pribumi meninggalkan benteng Lohayong, pusat misi kembali ke Lohayong (1630). Akan tetapi kali ini tidak mendapat dukungan semestinya dari penduduk pribumi, yang sudah nampak tidak mau bersekutu.

Pengalaman yang tidak menguntungkan di Lohayong Solor, ditambah kurang tesedianya dana pemugaran Benteng Lohayong, maka diputuskan untuk memindahkan pusat perdagangan, pusat misi ke Postoh di Larantuka (1636), dimana masyarakat pribumi memberikan harapan yang baik.

Tahun 1645, Raja Larantuka Ola Ado Bala, dipermandikan secara Katolik dengan Nama Don Fransisco Ola Ado Bala DVG. Beliau inilah yang pertama kali menyerahkan tongkat kerajaan yang berkepala emas kepada Bunda Maria Reinha Rosari.

Era 1679/1856, pengaruh Portugis ternyata mulai merosot untuk akhirnya menghilang. Akibatnya para padri yang sudah sangat kurang tidak mungkin dapat ditambah. Kunjungan iman dalam 4 s/d 6 tahun. Pada saat krisis seperti inilah kehidupan iman dan beragama, dipercayakan pada suatu “laksar Bunda Maria” yaitu : KONFRERIA REINHA ROSARI LARANTUKA”, suatu serikat gerejani yang didirikan oleh para pengungsi dari Malaka tahun 1642 dan 1660.

Pada masa krisis seperti ini, tercatat pula peranan dan pengaruh RAJA – dengan semua aparat pembantunya Raja-raja setempat/Raja Lewopulo, POU SUKU LEMA, KAPITAN dll ), terhadap Konfreria Reinha Rosari, yang berarti pula Peranan dan Pengaruh Penguasa setempat terhadap kehidupan dan perkembangan Iman pada masanya, serta perkembangan dikemudian hari.

Larantuka semakin jarang dikunjungi imam. Oleh karena pergolakkan kekuasaan di Larantuka, maka pada tanggal 20 Februari 1702, pusat pemerintahan Portugis dan pusat Misi Katolik berpindah ke LIFAU – TIMOR.

Oleh karena pertentangan terus menerus di Lifau, maka 10 Oktober 1769 akhirnya pusat misi katolik terpaksa dipindahkan ke desa nelayan berawa-rawa di pantai utara bagian Timur pulau Timor, kemudian dikenal dengan nama Dilly. Sejak saat itu, dimulailah suatu masa peralihan kekusaan pemerintahan dari Portugis ke Belanda, yang sangat mempengaruhi kehadiran para Padri Dominikan (Portugis), berikut kehidupan dan perkembangan Iman di wilayah Timor dan Solor.

Tahun 1853 Romo GASPAR DE HESSELE Pr, dalam kunjugannya melaporkan bahwa terdapat 3000 sampai 4000 orang Katolik tersebar di Larantuka, Wureh dan Konga, yang keadaannya sangat menyedihkan. Oleh karena kunjungan Imam sangat kurang, maka pengetahuan Agama rendah atau minim sekali, yang mengakibatkan kehidupan beragama sangat merosot. Kehidupan beragama masih berbaur dengan kebiasaan lama (kekafiran). Akan tetapi satu hal yang sangat menguntungkan ialah bahwa : Tekad mempertahankan UPACARA PARA LITURGI seperti Devosi Perarakan, serta keyakinan akan rahmat dan hikmat Kristiani dalam upacara semacam itu, telah melindungi Iman Umat dari pengaruh penyelewengan Imani. Disini peranan Konfreria sangat menonjol.

Menurut catatan Romo J.P.N.SANDERS Pr, bahwa untuk membasmi kebiasaan-kebiasaan yang tidak terpuji di kalangan umat, maka oleh Konfreria dibentuk semacam “ Polisi konferia yang disebut “MARINHAMOR“(marinhas = Polisi; mor = mayor = besar), yang juga melaporkan pada Konfreria untuk diberikan sanksi-sanksi kepada pelaku pelanggaran.

Hal ini terbukti dalam kunjungan dan karya kerasulan di kemudian hari , baik oleh para Imam Praja (1860-1863), maupun oleh para misionaris Yesuit (1863-1913), yang kemudian dilanjutkan oleh para Imam Sabda Alah (S.V.D) (1913- s/d sekarang.

Berkat ketekunan yang sangat terpuji dari para misionaris, serta pengertian dan pemahaman yang dibina secara bertahap, akhirnya pengaruh lama (tahyul dan kekafiran) yang sempat berbaur dengan kehidupan iman dan menggereja/ beragama, secara bertahap tetapi pasti, mulai dikikis dan akhirnya menghilang.

Sumber: East Flores Lamaholot

22 Jun 2011

Waktu kita saling mencinta

Posted by Hans Hallan. No Comments

Kau Buat Benteng
Bertahan
Seolah-olah akan ada Angin Kencang
Atau timah panas tertelan
Awas, BOOMERANG!!!

Kepalaku kadang remuk redam
Mata membengkak seperti bongkah rugby
Kemelut tak pernah selesai
Seperti roda, berputar atau kadang terdiam

Ngototmu lama…
Jika sudah tak kuat aku menerima
Kuhujam saja belah bibirmu
Sesukaku
Seperti mauku
Selama aku mampu

Aku tau KITA saling tergila-gila
Tapi bisakah kita beristirahat barang sebentar?
Aku hanya sedikit letih mengumbar
Pun berteriak lantang
“SAYA CUMA UNTUK KAU”

Maria Pankratia

21 Jun 2011

Angelo Scola, Uskup Agung Milan yang baru?

Posted by Hans Hallan. No Comments

Tanggal 10 Juni yang lalu, para kardinal dan uskup dari Kongregasi para Uskup berkumpul di Istana Apostolik Vatikan selama lebih dari tiga jam mendiskusikan tiga nama yang disebut sebagai penerus Kardinal Dionigi Tettamanzi sebagai Uskup Agung Milan yang baru.

Setelah melalui pemungutan suara secara rahasia, muncul calon utama: Patriark Venesia, Angelo Scola. Dua nama lainnya yang menjadi kandidat adalah: Monsignor Aldo Giordano, Wakil Tahta Suci bagi Dewan Konsili Eropa, dan Mgr. Francesco Lambiasi, Uskup dari Rimini.

Kardinal Marc Ouellet, Pemimpin Kongregasi para Uskup, telah bertemu dengan Bapa Suci tanggal 11 Juni, sebagai tahap akhir sebelum pengangkatan Uskup Agung Milan. Para kardinal dan uskup yang bekerjasama dengan Bapa Suci dalam mengkaji pemimpin-pemimpin Keuskupan Gereja Katolik, telah memeriksa pemilihan bagi tiga keuskupan di tambah satu pembantu uskup Inggris. Pada urutan ke-dua ditempati oleh Milan sebagai Keuskupan terpenting di seluruh Eropa dan mungkin juga di dunia.

Dalam pertemuan dengan Bapa Suci, Kardinal Ouellet telah menyerahkan semua berkas-berkas yang pada akhirnya menunjukkan nama Angelo Scola. Sumber di Vatikan mengatakan bahwa Bapa Suci memilih Patriak itu.

Paus Benediktus XVI telah mengenal Patriark Venesia selama bertahun-tahun. Dia adalah seorang pengikut Fr. Luigi Giussani dari Gerakan Katolik CL. Ratzinger dan Scola mengambil bagian dalam redaksi majalah teologi “Communio”, yang lahir setelah Konsili Vatikan II untuk merangkum ajaran teologi konsili yang tidak dikenal dalam majalah teologi progresif “Concilium”.

Uskup Agung Milan yang baru nanti akan berhadapan dengan masalah ketidakpuasan akan penggabungan paroki-paroki di unit pastoral baru, kontroversi atas pengajaran liturgia Ambrosiana yang baru, dan pemerintahan kota yang baru oleh Giuliano Pisapia dari Partai Komunis. Ia juga harus mempersiapkan kunjungan Paus, yang akan datang ke Milan tahun depan.

Pengumuman resmi dari Bapa Suci diharapkan pada akhir bulan Juni ini.

Milan, 16 Juni 2011
Oleh: Shirley Hadisandjaja Mandelli
Sumber: www.pondokrenungan.com

6 Jun 2011

Penundaan Pemilukada Terlama

Posted by Hans Hallan. No Comments

Penundaan Pemilukada di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur menjadi yang terlama hingga saat ini.

Anggota KPU Pusat I Gusti Putu Artha mengatakan dari pengalaman mengurusi persoalan pemilukada di 200-an daerah di Indonesia, hanya pemilukada Flotim, yang pelaksanaanya terus mengalami penundaan hingga hampir setahun.

“Saya katakan pada mereka (KPU Flotim ) saya mengurusi 266 pilkada di Indonesia dan saya mengerti kejadiannya seperti apa. Di Bombana saya datang seminggu kemudian langsung MOU kok . Jangan sampai kalah sama yang lain karena ini rekor terlama di Indonesia nih,”

Anggota KPU Pusat , I Gusti Putu Artha menambahkan, dirinya tidak mau berspekulasi ada tidaknya tekanan dari pihak tertentu yang menyebabkan tertundanya pemilukada di Folres Timur, NTT. KPU Pusat tetap akan mengawal proses Pemilu Kada Flotim agar bisa secepatnya dilaksanakan. Salah satu upayanya dengan memfasilitasi pertemuan antara KPU Flotim dan Pemda setempat guna membicarakan kelanjutan proses Pemilu Kada yang ada.

sumber :www.kbr68h.com/berita/nasional/3139-penundaan-pilkada-flotim-terlama-di-indonesia

2 Jun 2011

Bali, Kini dan Nanti

Posted by Hans Hallan. No Comments

Setiap hari Gusti harus bangun pagi-pagi, membasuh diri dan siap-siap berangkat mengais rejeki. Pekerjaannya mengharuskan Gusti selalu berangkat lebih dini, demi menghindari kemacetan yang mulai merajalela di Bali. Letak kos-kosan Gusti yang berada ditengah keriuhan Kota Denpasar terpisah begitu jauh dengan kesenyapan bukit Jimbaran yang masih selalu cokelat tandus sejak dulu. Itulah alasan megapa Gusti lebih memilih untuk tinggal di Denpasar, segala sesuatu akan lebih mudah kecuali mencapai ladang uangnya Gusti mesti mematung dijalanan kurang lebih 30 menit. Hari ini Gusti berangkat sebagaimana mestinya, dengan seragam kerja yang mulai kumal karena harus dipakai setiap hari karena cuma sepasang itu saja. Pemilik perusahaannya terlalu pelit sehingga menyiksa Gusti begitu rupa. Seragam yang Kumal dan dekil. Ckckckckc..

Gusti sedang dalam perjalanan, entah mengapa setiap tiba di persimpangan ini Gusti harus terlarut dalam lamunan yang sama. Itu terjadi semenjak dua tahun yang lalu. Isi kepalanya bergejolak, mengalami pertentangan dan mencoba mempertimbangkan segala yang pernah terjadi maupun pembicaraan yang sempat berlangsung sebelumnya. Tentang Kota ini dan kesibukannya yang mulai menggila.

Denpasar makin hari makin sesak, tak seperti lima tahun yang lalu saat Gusti baru beranjak remaja dan diajak Ayahnya kesini demi melihat-lihat Ibu Kota. Kala itu Gusti hanya seorang bocah kampung yang tak mengerti apapun. Namun Gusti begitu nyaman melihat ibu kotanya berseri, penuh tanaman hijau dengan sawah dan pepohonan yang masih berada ditengah kota sehingga polusi udara tersingkirkan. Para pejalan kaki memiliki jalur yang aman untuk menempuh perjalanannya diatas trotoar. Wisatawan asing bebas kesana-kemari tanpa merasa terancam sesuatu. Jalanan tertib dan rapih, jika Gusti akan menyebrang Gusti hanya akan mengangkat tangannya dan tersenyum lalu sang pengendara memberikan senyum balasan dan berhenti untuk sementara agar Gusti bisa menyebrang.

Suasana ceria itu perlahan tak ditemukan lagi, Gusti seperti penghuni Ibu kota lainnya mulai berpura-pura semuanya baik-baik saja dan mulai berpikir Egois. ‘itu bukan pekerjaan saya, bukan urusan saya. Sudah ada orang yang dipekerjakan untuk itu, ngapain saya repot-repot mikir?’ tapi di lain hari Gusti akan menyesali pemikiran itu dengan sadar. ‘kalo saja masyarakat Bali jauh lebih paham akan kebutuhannya sendiri, bahwa sebagian besar manusia di kota ini juga mulai merasakan hal yang serupa, kemacetan yang terjadi disetiap jam kerja. Pengendara roda dua yang mulai brutal bekerja sama dengan pedagang kaki lima mengkorupsi jatah pejalan kaki dengan menggunakan trotoar sebagai jalan raya juga tempat berjualan. Belum lagi para pengemis yang mulai menjamur di sudut-sudut lampu merah. Budaya malu itu sungguh-sungguh dilupakan.

Pernah ada selentingan akan dibangun jembatan diatas rawa yang menghubungkan Benoa dan Bay Pass Ngurah Ray atau juga jalan layang diatas jalur simpang siur demi mengatasi kemacetan dan keluhan orang-orang yang setiap hari bermobilisasi dari Denpasar ke Jimbaran. Ini baru sebagian kota, entah di bagian kota yang lain seperti apa rasanya tidak jauh berbeda nasibnya. Namun, Orang Bali begitu menghargai alam dan leluhurnya. Tidak boleh ada bangunan yang melebihi tinggi Pura Agung, itu sudah HARGA MATI (untuk bagian ini, harus di akui dan diberikan jempol sebanyak-banyaknya jika kita punya.hehe). Belakangan dikhabarkan akan ada TRANS BALI (seperti Busway di Jakarta atau Trans Jogja di Jogjakarta) sehingga mulai dibangun halte-halte Bus disepanjang jalanan kota Denpasar yang mungkin akan dijadikan perhentian Bus tersebut. Namun sudah hampir setahun ini halte-halte yang dibangun itu hanya menjadi sasaran tangan-tangan jahil anak-anak remaja labil yang doyan vandalisme.

*Seperti kita ketahui pengadaan Busway di kota-kota besar KATANYA adalah salah satu cara menghindari kemacetan dengan mengajak pengendara Sepeda motor maupun mobil agar bersedia meninggalkan kendaraannya dan menggunakan kendaraan umum untuk aktivitas dan kebutuhanya setiap hari.

Masih di lampu merah simpang siur, Gusti tiba-tiba tersentak dari lamunannya. Seperti ada sesuatu yang menghantam bagian belakang motornya. Yah seperti biasa pengendara lain yang merasa hanya dirinya yang memiliki kepentingan. Gusti akhirnya tidak menghiraukannya, percuma membuang-buang suara atau tenaga untuk menegur atau memarahi. Hari ini tidak boleh diawali dengan perseteruan seperti hari-hari lainnya.

Sepanjang Bay Pass Ngurah Ray, Gusti melanjutkan lamunan Ibu Kotanya. Bali sekarang bukan identik dengan Pulau seribu Pura seperti yang sering dibangga-banggain itu melainkan Pulau Seribu Ruko. Ramai-ramai warga menjual sawah-ladang yang terdapat ditengah kota, untuk kemudian dibangun tempat usaha. Menjadi petani sekarang bukan lagi sebuah kebanggaan, juga tidak menjanjikan apa-apa katanya. Kadang yang ada hanya malu. Benarkah?! Belum lagi hutan-hutan bakau disekitaran benoa dan pinggiran bay pass yang mulai ditutupi tanah uruk dan dipakai sebagai tempat tinggal masyarakat. Sempat berpikirkah mereka jika pemanasan global yang di gembar-gemborkan itu sungguh-sungguh sedang terjadi saat ini? Hufft..

Salah seorang teman Gusti yang jauh-jauh merantau dari Papua pernah berkata begini:

‘Gusti Pache, kayanya lama-lama saya pulang kombali ke kampung saja. Bali sudah tra sama macam dulu lagi. Kadang-kadang ju kita orang bakalai tegal masalah sepele, sapa yang orang asli sini sapa yang pendatang. Saya macam rasa tra betah lagi kah, padahal kita masih sama-sama orang Indonesia juga’

Gusti menyukai teman Papuanya itu, betapa tertegunnya Ia saat pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Orang tinggi hitam keriting yang jarang sekali Gusti temukan di Pulaunya. Namun orang tersebut mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan yang makin disukai Gusti orang tersebut sangat baik hati. Tidak seperti yang ada dalam bayangannya selama ini, karena selalu ada cerita kalau oran-orang dari Timur Indonesia itu adalah orang-orang yang keras dan kasar. Saudara-saudaranya itu juga orang yang Mandiri, banyak sekali mereka yang datang dan mengadu nasibnya di Ibu Kota. Kadang Gusti berpikir, kenapa Orang-orang di Daerahnya jarang setangguh orang-orang dari timur tersebut. Mereka berani pergi jauh dari kampungnya dan mencari kehidupan yang sesungguhnya.

Tarikan nafas Gusti seiring laju motor yang berhenti tepat didepan pabrik cokelat dimana Gusti bekerja. Rutinitas hari ini dimulai, Gusti berusaha mengenyampingkan lamunannya pagi tadi. Baginya itu hanyalah pengisi waktu untuk perjalanannya yang cukup panjang dari Denpasar menuju Jimbaran. Otoritasnya hanya sampai pada “terus berusaha dengan kesadaran yang ada, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan listrik dan air sesuai kebutuhan, menjadi pengguna jalan raya yang tertib dan menaati peraturan lalu lintas serta menaati aturan-aturan lain sebagai warga Negara Indonesia yang baik”…selebihnya Gusti tidak dapat berbuat banyak, apalagi berharap banyak. Toh untuk makan pun Gusti kadang-kadang harus menjadi orang jahat (bisa jadi kalau terpaksa :D )

Kembali saya tekankan : Manusia dinilai baik atau jahat tergantung pada perbuatannya. I Love Indonesia Full!

= Bagi kawan-kawan (khususnya di Bali) yang mulai merasa tidak nyaman dan memiliki masalah sendiri dengan lingkungannya mungkin bisa di share disini, bersama-sama kita mencari solusi manusiawi untuk kesulitan-kesulitan yang sering kita alami belakangan ini. Kecuali terror BOM, saya tidak memuatnya disini karena sudah ada Densus 88 yang special mengatasi masalah tersebut.

Oleh: Marshie Seda