« Older Entries Newer Entries » Subscribe to Latest Posts

15 Jul 2011

Penghuni Awal Larantuka

Posted by Hans Hallan. No Comments

Cerita/mitos tentang asala muasal penghuni Larantuka, sejauh ini begitu banyak versi dan bisa jadi tidak banyak yang mengetahui , apalagi generasi kini. Olehnya berikut ini di munculkan salah satu versinya.

Jauh di atas, di puncak Ile Mandiri burung Elang berwarna coklat dan burung rajawali berwarna abu-abu meletakkan telurnya. Ketika telur-telur itu terbuka, muncullah dua anak kembar. Saudara laki-laki bernama Koda Lia Nurat Ulu Nura Nama, saudara perempuan bernama Oa Dona Wato Wele. Keduanya hidup sendirian di puncak gunung dan makan buah-buahan pohon dan binatan2 hutan seperti ular dan kadal. Juga kedua orang bersaudara itu adalah orang liar; mereka berbulu dari kepala sampai kaki dan biasanya mencarik mangsa perburuan mereka dengan kuku jarinya.

Pada suatu malam, ketika keduanya sedang menyiapkan makanan, di tepi pantai di bawah Teniban Duli Hadung Bolen melihat nyala api mereka. teniban Duli adalah seorang perempuan keturunan Paji, yang tinggal si sebuah kampung di kaki gunung Ile Mandiri. Nyala api,yang terang seperti bintang, langsung mengenai dadanya. Pada hari berikutnya ia menceritakan penampakkan malam itu kepada saudaranya, SUban Lewan dan meminta dia naik ke puncak gunung untuk memeriksa, entah ada seorang pemuda yang berdiam di atas.

Suban Lewan menyiapkan diri untuk berburu. Ia membunuh banyak binatang dan ketika berkeliling ia menemukan tempat tinggal Liat NUrat. Dekat tempat itu ia bersembunyi di atas sebatang pohon besar. Ketika LIa Nurat sia-sia berusaha menyalakan api, Suban Lewan memperlihatkan diri kepadanya dan menawarkan bentuan, tetapi terdahulu Lia NUrat harus membuang binatang2 perburuannya yang mengerikan itu. Ia turun dari pohon dan berbagi makanannya dengan penghuni gunung itu. Empat hari kemudian ia datang kembali mengunjungi Lia Nurat dan membawanya kedekat rumahnya, lalu menyembunyikannya di dalam hutan lontar miliknya.

Ketika melihat hujan tak kunjung berhenti dan awan turun ke lembah, saudarinya Teniban Duli mengetahui bahwa “anak gunung” (ile anan) berada tidak jauh. Ia menyuruh saudaranya mengantarnya ke tempat persembunyian itu, karena ia hendak mengawininya. Tetaapi Liat Nuratmasih seorang hutan. Bulu yang lebat menjadi pakaiannya dan kuku jarinya adalah senjatanya. Suban Lewan dan saudarinya mengundangnya makan dan membuatnya mabuk dengan tuak pohon lontar. Ketika ia sudah tertidur lelap keduanya mengambil pisau dan memotong kuku2 jarinya dan mencukur bulu seluruh tubuhnya. Ketika ia terjaga dari tidur ia menggigil kedinginan sampai seluruh bumi bergoyang.

Lia NUrat tidak mengenal adat kebiasaan amnusia. sia2 Teniban Duli membetangkan tikar perkawinan untuknya. Baru sesudah ia menunjukkan kepadanya, bagaiman binatang2 hutan kawin, ia mengerti apa yang dikehendaki oleh Teniban Duli darinya. Bersama Teniban DUli ia melahirkan tujuh orang putra. Anak yang pertama bernama Keweluk Ile Alen Kebou Wawe Utan, yang lain bernama Kewaka, Belawa Burak, Bam Powa, Regi Bera dan Mado; anak ketujuh adalah seorang perempuan. Lia Nurat tinggal di kampung iparnya, yang mengajarkan dia bagaimana mengerjakan kebun dan menyadap tuak, Ia mendapatkan hasil limpah dalam segala pekerjaannya. Lia Nurat meninggalkan kammmpung di tepi pantai itu dan pergi ke sebuah kampung di atas gunung. Di situ ia mengambil istri yang kedua, bernama Uta Wata Teluma Burak, berasal dari Maumere. Teniban DUli sangat cemburu. Oleh sebab itu ia menghina pesaingnya ketika keduanya pada suatu ketika sedang saling meminyaki. Karena ganti minyak kelapa ia memakai air gula untuk meminyaki rambut madunya.

Untuk membalas penghinaan terhadap saudarinya mereka, saudara2 Uta Wata memerangi Lia Nurat dan mengalahkannya. Akan tetapi mereka baru dapat membunuh Lia Nurat yang terluka berat itu ketika ia sendiri menyatakan kepada mereka bagaimana cara mereka melaksanakannya. Anak2nya laki2, “anak2 dari gunung” tidak menerima hal itu. mereka berangkat ke Maumere bersenjatakan senjat2 yang terbuat dari besi, yang dibuat dari paku2 yang mereka rampok dari kapal (eropa) dan membunuh banyak musuh mereka.

Pada perjalanan pulang mereka bertemu dengan sekelompok orang Paji yang mengundang mereka minum. Ketika semua orang mabuk oleh tuak, terjadilah perkelahian. Karena orang2 Paji terlalu membanggakan kepahlawanan mereka, maka “anak2 dari gunung” itu mengupas kulit tubuh pemimpin orang Paji itu, menggosok tubuhnya dengan garam dan kapur, lalu mengusir dia ke kampungnya. Dimana2 dengan nyaring ia mengeluhkan apa yang telah dilakukan oleh orang Demon terhadap dirinya. Akibatnya terjadi peperangan besar yang pertama antara Paji dan Demon. Orang Demon mengalahkan orang Paji dan mengusir mereka dari semua kampung di gunung dan pantai wilayah Ile Mandiri. Mereka harus melarikan diri ke Tanjung BUnga dan kemudian ke Adonara. Anak2 Lia Nurat dan Teniban Duli mengambil tanah2 yang ditinggalkan oleh orang Paji. Mereka menjadi bapa2 asal suku, yang mendiami kampung-kampung di sekitar Larantuka, ialah WAi’lolon, Lewo Hala, Leneda, Lewoloba, Watowiti dan Mudakeputu. (Paul Arndt)

Keenam kampung yang disebutkan pada akhir cerita Lia Nurat, dahulu merupakan suatu persatuan kampung2, yang berbatasan langsung dengan tanah suku Larantuka. Persatuan itu adalah yang terpenting dari kesepuluh wilayah inti yang membentuk kerajaan Larantuka dan dinamakan Mudakaputu, sesuai nama kampung utama.

Karl-Heinz Kohl: Raran Tonu Wuju,cetakan I, sept 2009,Penerbit Ledalero
Sumber: East Flores Lamaholot

13 Jul 2011

Perkembangan Katolik di Flores Timur

Posted by Hans Hallan. No Comments

Jurnal pelayaran kapal layar Victoria dan St. Antonio dibawah pimpinan nahkoda ‘del Alcano”, catatan yang di buat oleh seorang bangsawan Italia (penulis) Antonio Pigafetta, tercatat bahwa dalam bulan Januari dan Februari 1522 – dalam perjalanan menuju Madrid kedua kapal dari ekspedisi Magelhaens – telah melewati perairan Alor dan Solor; menyinggahi beberapa pelabuhan di beberapa kepulauan Solor, Alor, Lembata bagian timur dan Bunga Wutun/Cabe da Flora (Flores bagian timur).

Catatan ini tidak jelas menyebutkan dalam persinggahan tersebut terjadi sentuhan iman dan awal penyebaran agama. Namun demikian sudah tentu sekurang-kurangnya dilakukan pewartaan Sabda. Jikapun tidak sampai pada pembaptisan, dapat dipahami mengingat kebiasaan orang Spanyol dan Portugis di masa itu. Termasuk tidak disebutkan persinggahan di Larantuka.

Begitupun catatan lain menyebutkan di tahun 1522 – 1556, terdapat permandian masyarakat pribumi sebanyak 5.000 orang di Timor dan Ende. Juga permandian di Solor dan Savoe Pequene (Sabu Kecil). Inipun tidak menyebutkan tentang Larantuka. Tahun 1529, oleh Sri Paus, wilayah Solor dan Timor diesrahkan kepada misionaris Portugis untuk penyebaran agama Katolik.

Tahun 1556, dalam suatu pelayaran ke Lohayong di Solor, Paderi ANTONIO TAVEIRA OP (dari Ordo Dominikan) singgah sebentar dipantai LABONAMA (Lewonama/di Lokea Larantuka – sekarang Lohayong) dan mempermandikan orang. Hal ini berarti untuk pertama kali tercatat tentang : permandian orang Larantuka.

Dalam sutu serangan gabungan antara kompeni Belanda (VOC) dengan penduduk pribumi (1613), pusat perdagangan Portugis dan pusat Misi Solor porak-poranda, sehingga terpaksa berpindah dari Lohayong Solor ke Larantuka, di tempat yang kemudian dikenal dengan nama Postoh.

Setelah Belanda dan pribumi meninggalkan benteng Lohayong, pusat misi kembali ke Lohayong (1630). Akan tetapi kali ini tidak mendapat dukungan semestinya dari penduduk pribumi, yang sudah nampak tidak mau bersekutu.

Pengalaman yang tidak menguntungkan di Lohayong Solor, ditambah kurang tesedianya dana pemugaran Benteng Lohayong, maka diputuskan untuk memindahkan pusat perdagangan, pusat misi ke Postoh di Larantuka (1636), dimana masyarakat pribumi memberikan harapan yang baik.

Tahun 1645, Raja Larantuka Ola Ado Bala, dipermandikan secara Katolik dengan Nama Don Fransisco Ola Ado Bala DVG. Beliau inilah yang pertama kali menyerahkan tongkat kerajaan yang berkepala emas kepada Bunda Maria Reinha Rosari.

Era 1679/1856, pengaruh Portugis ternyata mulai merosot untuk akhirnya menghilang. Akibatnya para padri yang sudah sangat kurang tidak mungkin dapat ditambah. Kunjungan iman dalam 4 s/d 6 tahun. Pada saat krisis seperti inilah kehidupan iman dan beragama, dipercayakan pada suatu “laksar Bunda Maria” yaitu : KONFRERIA REINHA ROSARI LARANTUKA”, suatu serikat gerejani yang didirikan oleh para pengungsi dari Malaka tahun 1642 dan 1660.

Pada masa krisis seperti ini, tercatat pula peranan dan pengaruh RAJA – dengan semua aparat pembantunya Raja-raja setempat/Raja Lewopulo, POU SUKU LEMA, KAPITAN dll ), terhadap Konfreria Reinha Rosari, yang berarti pula Peranan dan Pengaruh Penguasa setempat terhadap kehidupan dan perkembangan Iman pada masanya, serta perkembangan dikemudian hari.

Larantuka semakin jarang dikunjungi imam. Oleh karena pergolakkan kekuasaan di Larantuka, maka pada tanggal 20 Februari 1702, pusat pemerintahan Portugis dan pusat Misi Katolik berpindah ke LIFAU – TIMOR.

Oleh karena pertentangan terus menerus di Lifau, maka 10 Oktober 1769 akhirnya pusat misi katolik terpaksa dipindahkan ke desa nelayan berawa-rawa di pantai utara bagian Timur pulau Timor, kemudian dikenal dengan nama Dilly. Sejak saat itu, dimulailah suatu masa peralihan kekusaan pemerintahan dari Portugis ke Belanda, yang sangat mempengaruhi kehadiran para Padri Dominikan (Portugis), berikut kehidupan dan perkembangan Iman di wilayah Timor dan Solor.

Tahun 1853 Romo GASPAR DE HESSELE Pr, dalam kunjugannya melaporkan bahwa terdapat 3000 sampai 4000 orang Katolik tersebar di Larantuka, Wureh dan Konga, yang keadaannya sangat menyedihkan. Oleh karena kunjungan Imam sangat kurang, maka pengetahuan Agama rendah atau minim sekali, yang mengakibatkan kehidupan beragama sangat merosot. Kehidupan beragama masih berbaur dengan kebiasaan lama (kekafiran). Akan tetapi satu hal yang sangat menguntungkan ialah bahwa : Tekad mempertahankan UPACARA PARA LITURGI seperti Devosi Perarakan, serta keyakinan akan rahmat dan hikmat Kristiani dalam upacara semacam itu, telah melindungi Iman Umat dari pengaruh penyelewengan Imani. Disini peranan Konfreria sangat menonjol.

Menurut catatan Romo J.P.N.SANDERS Pr, bahwa untuk membasmi kebiasaan-kebiasaan yang tidak terpuji di kalangan umat, maka oleh Konfreria dibentuk semacam “ Polisi konferia yang disebut “MARINHAMOR“(marinhas = Polisi; mor = mayor = besar), yang juga melaporkan pada Konfreria untuk diberikan sanksi-sanksi kepada pelaku pelanggaran.

Hal ini terbukti dalam kunjungan dan karya kerasulan di kemudian hari , baik oleh para Imam Praja (1860-1863), maupun oleh para misionaris Yesuit (1863-1913), yang kemudian dilanjutkan oleh para Imam Sabda Alah (S.V.D) (1913- s/d sekarang.

Berkat ketekunan yang sangat terpuji dari para misionaris, serta pengertian dan pemahaman yang dibina secara bertahap, akhirnya pengaruh lama (tahyul dan kekafiran) yang sempat berbaur dengan kehidupan iman dan menggereja/ beragama, secara bertahap tetapi pasti, mulai dikikis dan akhirnya menghilang.

Sumber: East Flores Lamaholot

22 Jun 2011

Waktu kita saling mencinta

Posted by Hans Hallan. No Comments

Kau Buat Benteng
Bertahan
Seolah-olah akan ada Angin Kencang
Atau timah panas tertelan
Awas, BOOMERANG!!!

Kepalaku kadang remuk redam
Mata membengkak seperti bongkah rugby
Kemelut tak pernah selesai
Seperti roda, berputar atau kadang terdiam

Ngototmu lama…
Jika sudah tak kuat aku menerima
Kuhujam saja belah bibirmu
Sesukaku
Seperti mauku
Selama aku mampu

Aku tau KITA saling tergila-gila
Tapi bisakah kita beristirahat barang sebentar?
Aku hanya sedikit letih mengumbar
Pun berteriak lantang
“SAYA CUMA UNTUK KAU”

Maria Pankratia

21 Jun 2011

Angelo Scola, Uskup Agung Milan yang baru?

Posted by Hans Hallan. No Comments

Tanggal 10 Juni yang lalu, para kardinal dan uskup dari Kongregasi para Uskup berkumpul di Istana Apostolik Vatikan selama lebih dari tiga jam mendiskusikan tiga nama yang disebut sebagai penerus Kardinal Dionigi Tettamanzi sebagai Uskup Agung Milan yang baru.

Setelah melalui pemungutan suara secara rahasia, muncul calon utama: Patriark Venesia, Angelo Scola. Dua nama lainnya yang menjadi kandidat adalah: Monsignor Aldo Giordano, Wakil Tahta Suci bagi Dewan Konsili Eropa, dan Mgr. Francesco Lambiasi, Uskup dari Rimini.

Kardinal Marc Ouellet, Pemimpin Kongregasi para Uskup, telah bertemu dengan Bapa Suci tanggal 11 Juni, sebagai tahap akhir sebelum pengangkatan Uskup Agung Milan. Para kardinal dan uskup yang bekerjasama dengan Bapa Suci dalam mengkaji pemimpin-pemimpin Keuskupan Gereja Katolik, telah memeriksa pemilihan bagi tiga keuskupan di tambah satu pembantu uskup Inggris. Pada urutan ke-dua ditempati oleh Milan sebagai Keuskupan terpenting di seluruh Eropa dan mungkin juga di dunia.

Dalam pertemuan dengan Bapa Suci, Kardinal Ouellet telah menyerahkan semua berkas-berkas yang pada akhirnya menunjukkan nama Angelo Scola. Sumber di Vatikan mengatakan bahwa Bapa Suci memilih Patriak itu.

Paus Benediktus XVI telah mengenal Patriark Venesia selama bertahun-tahun. Dia adalah seorang pengikut Fr. Luigi Giussani dari Gerakan Katolik CL. Ratzinger dan Scola mengambil bagian dalam redaksi majalah teologi “Communio”, yang lahir setelah Konsili Vatikan II untuk merangkum ajaran teologi konsili yang tidak dikenal dalam majalah teologi progresif “Concilium”.

Uskup Agung Milan yang baru nanti akan berhadapan dengan masalah ketidakpuasan akan penggabungan paroki-paroki di unit pastoral baru, kontroversi atas pengajaran liturgia Ambrosiana yang baru, dan pemerintahan kota yang baru oleh Giuliano Pisapia dari Partai Komunis. Ia juga harus mempersiapkan kunjungan Paus, yang akan datang ke Milan tahun depan.

Pengumuman resmi dari Bapa Suci diharapkan pada akhir bulan Juni ini.

Milan, 16 Juni 2011
Oleh: Shirley Hadisandjaja Mandelli
Sumber: www.pondokrenungan.com

6 Jun 2011

Penundaan Pemilukada Terlama

Posted by Hans Hallan. No Comments

Penundaan Pemilukada di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur menjadi yang terlama hingga saat ini.

Anggota KPU Pusat I Gusti Putu Artha mengatakan dari pengalaman mengurusi persoalan pemilukada di 200-an daerah di Indonesia, hanya pemilukada Flotim, yang pelaksanaanya terus mengalami penundaan hingga hampir setahun.

“Saya katakan pada mereka (KPU Flotim ) saya mengurusi 266 pilkada di Indonesia dan saya mengerti kejadiannya seperti apa. Di Bombana saya datang seminggu kemudian langsung MOU kok . Jangan sampai kalah sama yang lain karena ini rekor terlama di Indonesia nih,”

Anggota KPU Pusat , I Gusti Putu Artha menambahkan, dirinya tidak mau berspekulasi ada tidaknya tekanan dari pihak tertentu yang menyebabkan tertundanya pemilukada di Folres Timur, NTT. KPU Pusat tetap akan mengawal proses Pemilu Kada Flotim agar bisa secepatnya dilaksanakan. Salah satu upayanya dengan memfasilitasi pertemuan antara KPU Flotim dan Pemda setempat guna membicarakan kelanjutan proses Pemilu Kada yang ada.

sumber :www.kbr68h.com/berita/nasional/3139-penundaan-pilkada-flotim-terlama-di-indonesia

2 Jun 2011

Bali, Kini dan Nanti

Posted by Hans Hallan. No Comments

Setiap hari Gusti harus bangun pagi-pagi, membasuh diri dan siap-siap berangkat mengais rejeki. Pekerjaannya mengharuskan Gusti selalu berangkat lebih dini, demi menghindari kemacetan yang mulai merajalela di Bali. Letak kos-kosan Gusti yang berada ditengah keriuhan Kota Denpasar terpisah begitu jauh dengan kesenyapan bukit Jimbaran yang masih selalu cokelat tandus sejak dulu. Itulah alasan megapa Gusti lebih memilih untuk tinggal di Denpasar, segala sesuatu akan lebih mudah kecuali mencapai ladang uangnya Gusti mesti mematung dijalanan kurang lebih 30 menit. Hari ini Gusti berangkat sebagaimana mestinya, dengan seragam kerja yang mulai kumal karena harus dipakai setiap hari karena cuma sepasang itu saja. Pemilik perusahaannya terlalu pelit sehingga menyiksa Gusti begitu rupa. Seragam yang Kumal dan dekil. Ckckckckc..

Gusti sedang dalam perjalanan, entah mengapa setiap tiba di persimpangan ini Gusti harus terlarut dalam lamunan yang sama. Itu terjadi semenjak dua tahun yang lalu. Isi kepalanya bergejolak, mengalami pertentangan dan mencoba mempertimbangkan segala yang pernah terjadi maupun pembicaraan yang sempat berlangsung sebelumnya. Tentang Kota ini dan kesibukannya yang mulai menggila.

Denpasar makin hari makin sesak, tak seperti lima tahun yang lalu saat Gusti baru beranjak remaja dan diajak Ayahnya kesini demi melihat-lihat Ibu Kota. Kala itu Gusti hanya seorang bocah kampung yang tak mengerti apapun. Namun Gusti begitu nyaman melihat ibu kotanya berseri, penuh tanaman hijau dengan sawah dan pepohonan yang masih berada ditengah kota sehingga polusi udara tersingkirkan. Para pejalan kaki memiliki jalur yang aman untuk menempuh perjalanannya diatas trotoar. Wisatawan asing bebas kesana-kemari tanpa merasa terancam sesuatu. Jalanan tertib dan rapih, jika Gusti akan menyebrang Gusti hanya akan mengangkat tangannya dan tersenyum lalu sang pengendara memberikan senyum balasan dan berhenti untuk sementara agar Gusti bisa menyebrang.

Suasana ceria itu perlahan tak ditemukan lagi, Gusti seperti penghuni Ibu kota lainnya mulai berpura-pura semuanya baik-baik saja dan mulai berpikir Egois. ‘itu bukan pekerjaan saya, bukan urusan saya. Sudah ada orang yang dipekerjakan untuk itu, ngapain saya repot-repot mikir?’ tapi di lain hari Gusti akan menyesali pemikiran itu dengan sadar. ‘kalo saja masyarakat Bali jauh lebih paham akan kebutuhannya sendiri, bahwa sebagian besar manusia di kota ini juga mulai merasakan hal yang serupa, kemacetan yang terjadi disetiap jam kerja. Pengendara roda dua yang mulai brutal bekerja sama dengan pedagang kaki lima mengkorupsi jatah pejalan kaki dengan menggunakan trotoar sebagai jalan raya juga tempat berjualan. Belum lagi para pengemis yang mulai menjamur di sudut-sudut lampu merah. Budaya malu itu sungguh-sungguh dilupakan.

Pernah ada selentingan akan dibangun jembatan diatas rawa yang menghubungkan Benoa dan Bay Pass Ngurah Ray atau juga jalan layang diatas jalur simpang siur demi mengatasi kemacetan dan keluhan orang-orang yang setiap hari bermobilisasi dari Denpasar ke Jimbaran. Ini baru sebagian kota, entah di bagian kota yang lain seperti apa rasanya tidak jauh berbeda nasibnya. Namun, Orang Bali begitu menghargai alam dan leluhurnya. Tidak boleh ada bangunan yang melebihi tinggi Pura Agung, itu sudah HARGA MATI (untuk bagian ini, harus di akui dan diberikan jempol sebanyak-banyaknya jika kita punya.hehe). Belakangan dikhabarkan akan ada TRANS BALI (seperti Busway di Jakarta atau Trans Jogja di Jogjakarta) sehingga mulai dibangun halte-halte Bus disepanjang jalanan kota Denpasar yang mungkin akan dijadikan perhentian Bus tersebut. Namun sudah hampir setahun ini halte-halte yang dibangun itu hanya menjadi sasaran tangan-tangan jahil anak-anak remaja labil yang doyan vandalisme.

*Seperti kita ketahui pengadaan Busway di kota-kota besar KATANYA adalah salah satu cara menghindari kemacetan dengan mengajak pengendara Sepeda motor maupun mobil agar bersedia meninggalkan kendaraannya dan menggunakan kendaraan umum untuk aktivitas dan kebutuhanya setiap hari.

Masih di lampu merah simpang siur, Gusti tiba-tiba tersentak dari lamunannya. Seperti ada sesuatu yang menghantam bagian belakang motornya. Yah seperti biasa pengendara lain yang merasa hanya dirinya yang memiliki kepentingan. Gusti akhirnya tidak menghiraukannya, percuma membuang-buang suara atau tenaga untuk menegur atau memarahi. Hari ini tidak boleh diawali dengan perseteruan seperti hari-hari lainnya.

Sepanjang Bay Pass Ngurah Ray, Gusti melanjutkan lamunan Ibu Kotanya. Bali sekarang bukan identik dengan Pulau seribu Pura seperti yang sering dibangga-banggain itu melainkan Pulau Seribu Ruko. Ramai-ramai warga menjual sawah-ladang yang terdapat ditengah kota, untuk kemudian dibangun tempat usaha. Menjadi petani sekarang bukan lagi sebuah kebanggaan, juga tidak menjanjikan apa-apa katanya. Kadang yang ada hanya malu. Benarkah?! Belum lagi hutan-hutan bakau disekitaran benoa dan pinggiran bay pass yang mulai ditutupi tanah uruk dan dipakai sebagai tempat tinggal masyarakat. Sempat berpikirkah mereka jika pemanasan global yang di gembar-gemborkan itu sungguh-sungguh sedang terjadi saat ini? Hufft..

Salah seorang teman Gusti yang jauh-jauh merantau dari Papua pernah berkata begini:

‘Gusti Pache, kayanya lama-lama saya pulang kombali ke kampung saja. Bali sudah tra sama macam dulu lagi. Kadang-kadang ju kita orang bakalai tegal masalah sepele, sapa yang orang asli sini sapa yang pendatang. Saya macam rasa tra betah lagi kah, padahal kita masih sama-sama orang Indonesia juga’

Gusti menyukai teman Papuanya itu, betapa tertegunnya Ia saat pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Orang tinggi hitam keriting yang jarang sekali Gusti temukan di Pulaunya. Namun orang tersebut mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan yang makin disukai Gusti orang tersebut sangat baik hati. Tidak seperti yang ada dalam bayangannya selama ini, karena selalu ada cerita kalau oran-orang dari Timur Indonesia itu adalah orang-orang yang keras dan kasar. Saudara-saudaranya itu juga orang yang Mandiri, banyak sekali mereka yang datang dan mengadu nasibnya di Ibu Kota. Kadang Gusti berpikir, kenapa Orang-orang di Daerahnya jarang setangguh orang-orang dari timur tersebut. Mereka berani pergi jauh dari kampungnya dan mencari kehidupan yang sesungguhnya.

Tarikan nafas Gusti seiring laju motor yang berhenti tepat didepan pabrik cokelat dimana Gusti bekerja. Rutinitas hari ini dimulai, Gusti berusaha mengenyampingkan lamunannya pagi tadi. Baginya itu hanyalah pengisi waktu untuk perjalanannya yang cukup panjang dari Denpasar menuju Jimbaran. Otoritasnya hanya sampai pada “terus berusaha dengan kesadaran yang ada, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan listrik dan air sesuai kebutuhan, menjadi pengguna jalan raya yang tertib dan menaati peraturan lalu lintas serta menaati aturan-aturan lain sebagai warga Negara Indonesia yang baik”…selebihnya Gusti tidak dapat berbuat banyak, apalagi berharap banyak. Toh untuk makan pun Gusti kadang-kadang harus menjadi orang jahat (bisa jadi kalau terpaksa :D )

Kembali saya tekankan : Manusia dinilai baik atau jahat tergantung pada perbuatannya. I Love Indonesia Full!

= Bagi kawan-kawan (khususnya di Bali) yang mulai merasa tidak nyaman dan memiliki masalah sendiri dengan lingkungannya mungkin bisa di share disini, bersama-sama kita mencari solusi manusiawi untuk kesulitan-kesulitan yang sering kita alami belakangan ini. Kecuali terror BOM, saya tidak memuatnya disini karena sudah ada Densus 88 yang special mengatasi masalah tersebut.

Oleh: Marshie Seda

31 May 2011

Pemilu Kada Flores Timur Digelar Hari Ini

Posted by Hans Hallan. No Comments

Ribuan warga Flores Timur, Nusa Tenggara Timur sejak Selasa (31/5) pagi mulai berbondong-bondong ke tempat-tempat pemungutan suara untuk memberikan hak suara dalam pemilihan kepala daerah (pemilu kada) di daerah itu.

Anggota Komisi Pemilihan Umum Nusa Tenggara Timur yang memantau pelaksanaan pemilu kada di ujung Timur Pulau Flores Yoseph Dasi Djawa mengatakan antusias masyarakat untuk memilih pemimpin mereka lima tahun ke depan cukup tinggi. Hal ini tampak dari banyaknya warga warga masyarakat mendatangi TPS-TPS yang sudah disiapkan penyelenggara untuk memberikan hak suara, kata Dasi Djawa yang dihubungi dari Kupang melalui telepon genggam.

“Memang ada kekhawatiran kalau masyarakat jenuh karena proses Pilkada mengalami penundaan selama satu tahun terakhir, tetapi antusias masyarakat masih sangat tinggi,” kata Yoseph.

Ini menandakan, masyarakat memiliki keinginan yang kuat untuk segera memiliki pemimpin definitif untuk menahkodai daerah itu selama lima tahun ke depan, katanya. Pemilu kada Flores Timur akan diikuti 134.956 yang tersebar pada 373 TPS di 18 kecamatan. Para pemilih ini tersebar di tiga pulau yakni Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, Adonara dan Solor.

Pemilu kada ini diikuti enam pasang calon, masing-masing pasangan Felix Fernandez-M Ismail Arkiang yang diusung Koalisi Flores Timur Bersatu, Yosep Laga Doni Herin-Vatentinus Tukan yang diusung PDI Perjuangan bersama Koalisi Soga Naran Lewotanah (Sonata), Yosep Yulius Diaz-Markus Amalebe Tokan yang diusung Koalisi Pelangi Lamaholot.

Selain itu, pasangan Hironimus Semau Johny Odjan-H Ludin Lega yang diusung Koalisi Jalin Nurani Lamaholot, Yeremias Bunganaen-Kristoforus Keban, paket perseorangan dengan julukan Ribu Ratu Yes, serta pasangan Simon Hayon-Fransiskus Diaz Alffi (Mondial) yang diusung Partai Golkar yang tergabung dalam Koalisi Gewayan Tanah Lamaholot. (Ant/OL-04)

Sumber : Media Indonesia

30 May 2011

Sapu Lidi (sebuah rumah impian) PART II

Posted by Hans Hallan. No Comments

Di panggilan terjawab berikutnya, tiba-tiba lelakiku bergumam

‘hei perempuanku, aku punya filosofi baru. Mau mendengarkannya?’

Sengaja kusembunyikan penasaranku dengan menjawab tak acuh

‘bolehlah, apa itu?’

Dan kemudian baru siang itu -saat aku dapat mencuri sedikit waktu kerjaku untuk menelfonnya- aku mendengarkannya begitu bersemangat menyampaikan sesuatu

‘sapu lidi’

Aku terdiam,,,lama

‘hoi, perempuan engko dengar ka ne?’

‘iyo dengar ni le, tapi sapu lidi bua apa maka?mo sapu halaman?’

‘itu kita pe dinding papan dengan atap genteng diatas tebing dekat pantai atau danau atau sungai tuh, kita kasih nama SAPU LIDI’

Aku mulai tertarik, ‘terus..?’

‘ada yang bilang ‘semaking gerang semakin tegeng, makin tua makin kuat sapu lidi itu’ tapi Oppah juga punya filosofi lain untuk sapu lidi, sapu kan untuk membersihkan kotoran, sapu lidi itu dikumpulkan dari batang-batang daun kelapa terus diikat jadi satu supaya lebih maksimal penggunaannya. Kita pu rumah itu adalah kumpulan dari segala macam hal yang kita sukai maupun kita benci, saat ada badai atau kesulitan datang kita pu rumah akan jadi tempat yang nyaman untuk membersihkan itu semua. Tempat untuk membuang kotoran sekaligus membersihkannya, kita menerima-menampung dan melebur semuanya untuk kemudian menjadikannya makin kokoh – HIKMAH DAN HIDUP

Ada jeda panjang yang diisi dengan diam, sampai akhirnya aku menelan air ludah yang cukup banyak karena tenggorokanku kering.

‘Oppah’

‘yah?’

‘I Love You’

***
Pandangan laut lepas dihadapanku membiru sementara cakrawala perlahan menghitam, badai itu bersamaan datang saat kepayahan menghampiriku. Kepayahan karena anak pertamaku ditelan stres di puncak ubun-ubunku yang membabi buta. Tapi lagi- lagi Ia memberikan rasa nyaman yang menyejukkan itu.

‘sudah jo mama, te usah sedih lagi. Tuhan pu mau oo bukan kita, engko mo jaga bagaimana juga tapi kalo sudah mesti begitu dia pu cara kita te mampu lawan lagi’

Aku masih saja sesenggukan.

‘tapi dia laki-laki pertama le, sayang dia sudah mo mati-mati’

‘Lupa ka dia, di kita pu Sapu Lidi ini te ada yang boleh rasa menyesal. Apa yang su jadi berarti hukumnya kita mesti terima, itu yang pertama. Baru selanjutnya kita pikir, mo ulang lagi kah atau mo stop jadi ilmu untuk bekal selanjutnya?’

Mataku mulai memerah dan bengkak, aku lunglai karena tangisan yang tak kunjung henti. Dan akhirnya tertidur. Malam itu aku terlelap dibawah ketiaknya, seperti biasa.

Anak sulungku baru saja luruh dari rahimku pagi tadi, aku terlampau serius memikirkan masa depannya sampai akhirnya mengorbankan Dia juga. Kasihan dia, belum sampai menginjak bumi pun sudah jadi biang masalah.

Aku bersumpah, ini tak akan pernah terjadi lagi!

=> Still Loading for PART III :)

27 May 2011

Tentang Iklan paling Indonesia

Posted by Hans Hallan. No Comments

Salah satu kegiatan favorite saya saat senggang adalah menonton Televisi dan memperhatikan Iklan yang tayang di jeda acara. Makin kesini orang Indonesia makin kreatif dan menghargai Budayanya. Mungkin karena perseteruan dengan negara satu rumpun kita yang terjadi belakangan ini (baca : Malaysia), Orang Indonesia akhirnya merasa terancam dan mulai bersikap tegas (bisa dibilang juga Egois :p).

Beberapa Iklan yang tidak luput dari perhatian saya:

1. Iklan Telkomsel (penempatan di No.1 tidak bermaksud menjilat :) ))

Slogan ‘begitu dekat begitu nyata’ sudah terpatri rapi di kepala saya sejak masih duduk di kelas III SMA, saat itu pertama kali provider yang menjangkau luas ini menjadi satu-satunya provider di daerah saya yang tergolong ke pelosok negeri plus masih perawan dari sentuhan teknologi. Tapi dengan mudahnya Telkomsel memberikan pelayan komunikasi yang memungkinkan setiap anak Bangsa saling bertukar khabar dan menjalin hubungan yang erat meskipun bukan keluarga. Masih saya ingat Iklan Telkomsel yang menampilkan anak-anak Muda Indonesia berpakaian adat masing-masing dari Ujung Sumatera hingga Papua dan membahasakan kebanggaan mereka dengan bahasa masing-masing.

2. Iklan Djarum Super ‘My Great Adventure Indonesia’

Saya bisa mengganti channel Televisi berulang kali demi iklan ini hingga beberapa kawan mulai kesal dengan tingkah saya jika kebetulan kita menonton bersama. Teman saya, dia sedikit giat mengobservasi Iklan juga khususnya produk Rokok. Katanya, Iklan rokok selalu menjadi Iklan paling bagus mulai dari Tema, Kualitas gambar sampai budgetnya. Yah, kita hitung saja perokok Indonesia berapa banyaknya hahaha tentu saja para produsennya ingin menampilkan yang terbaik. Deskripsi perasaan saya saat pertama menyaksikan iklan ini cukup dramatis, :D …saya terharu dan sedikit menitikkan air mata (lebuayyy) tapi itu benar. Saya begitu mencintai Indonesia dan senantiasa berharap bangsa ini selalu sadar akan apa yang dimilikinya bukan hanya mengeluh dan membobardir pemimpin bangsa dengan tuntutan-tuntutannya (agak menyimpang, maaf).

Sedikit panjang untuk Iklan ini, karena memang yang ditampilkan di layar kaca begitu memukau. Indonesia dirangkum singkat dengan apik pada durasi kurang lebih1 menit. Dari ujung timur papua, Hutan tropis dan pesona Raja Ampat yang akhirnya melebarkan mata saya bahwa Phuket di Thailand tak ada apa-apanya. Beralih ke Way Kambas lalu Rinjani, Reef Surfing Bali, Krakatau dengan kawah dalamnya yang memantulkan bayangan helikopter dengan sangat jelas (kemampuan teknologi, ckckckck) atau kegilaan surfing diatas kubangan lumpur sawah yang menunjukkan bahwa tanah Indonesia sesungguhnya kaya. Kita begitu terlena diatas kekayaan kita hingga tidak menyadarinya.

3. Iklan Indomie (Versi Hari Raya)

Iklan produk makanan yang cukup menyita perhatian saya, khususnya Tahun lalu saat kawan-kawan saya yang beragam Muslim akan merayakan Hari Raya Lebaran. Pesona Nusantara ditampilkan jelas melalui citarasa seni dan budaya dari masing-masing Daerah di Indonesia dari Sumatera sampai Papua. Produk makanan seperti ‘Mie’ selalu diidentikan dengan sesuatu yang instan, cepat saji dan gampang dijangkau tapi tidak bisa kita pungkiri produk ini yang paling sering dicari dan di konsumsi. Tetap perhatikan kualitasnya kalo begitu.

4. Iklan Kuku Bima Energi (Khusus Indonesia Timur)

Beberapa Iklan Kuku Bima Energi juga mulai menjangkau daerah-daerah Indonesia Timur. Papua dan Nusa Tenggara Timur. Membantu saudara-Saudara kita yang di Sumatera, Jawa maupun Kalimantan yang mungkin belum begitu paham bahwa sesungguhnya Indonesia itu Besar.

Empat Iklan diatas sudah lama menyedot perhatian saya, masih ada beberapa Iklan lain yang sekarang juga mulai tak mau kalah dan berusaha menampilkan wajah Indonesia ditengah promosi produknya entah itu makanan, minuman atau rokok dan lain sebagainya.

Terima Kasih kepada para pekerja iklan (advertising) yang akhirnya jeli melihat potensi bangsa ini dan dengan kreatif mengemasnya dalam suguhan iklan yang otomatis selalu hadir setiap hari di sela acara-acara Televisi. Tayangan yang berulang-ulang membantu masyarakat Indonesia memperkaya pengetahuannya tentang lingkungan dan budaya bangsa sendiri.

Jangan sampai kejadian konyol yang pernah saya alami di tahun pertama bangku kuliah terjadi lagi. Kebetulan saya berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) salah satu propinsi yang terletak berdampingan dengan Timor Leste (Negara baru yang dulunya menjadi Propinsi termuda Indonesia)

Teman saya : Maria, kampung kamu dimana sih?

Saya : Flores

Teman saya : Flores itu dimana?

Saya : Nusa Tenggara Timur (NTT)

Teman saya : Oh yang sudah terbentuk jadi negara baru itu yah?apa sih namanya, lupa?

Saya : (masih biasa saja) Bukan, itu Timor Leste

Teman saya : Oh emang beda yah sama NTT?

Saya : (Mulai kesal) Beda donk

Teman saya : NTT masih masuk wilayah Indonesia?

Saya : (Makin kesal) Masih lah..masa gak pernah baca atau nonton berita?

Teman saya : Kan aku gak tau,,,

Saya : Makanya kalo dikasih kesempatan sekolah, belajar yang benar. Peta buta dihafalin, susah-susah kita di daerah sana belajar daerah kalian sementara kalian tidak tau daerah kita dimana.doh….

Teman saya : Emang kamu hafal semua wilayah Indonesia?

Saya : Semuanya sih tidak, tapi dari Sabang-sampai-Merauke saya harus tau lah karena saya Orang Indonesia. Malu kalo ditanyain tapi tidak tahu. Jangan-jangan kamu gak tau juga sabang dimana, merauke dimana?

Teman saya : Dimana emangnya

Saya : (seperti ditimpa sesuatu yang beratnya 10 Kg diatas kepala) TANYA PRESIDEN SANA!!!

===========

Denpasar 17 May 2011, I LOVE INDONESIA FULL!

oleh : Marshie Seda

9 May 2011

Hanya Ingin Pulang

Posted by Hans Hallan. No Comments

Oleh Marshie Seda

Aku ingin diselimuti tenun ikat Moyangku
Disekujur kaki koreng hitam lapuk
Yang setiap hari kupakai membajak
Lumpur-lumpur hitam nan subur tanahku
Seperti dulu waktu masih berdebu dan bau

Aku butuh surya yang masih temaram
Saat hari beranjak pukul enam
Menembus jari-jari nyiur yang melambai
Membentuk shiloutte indah jagat permai
Menghantar bocah-bocah tengik ke sungai

Bersihkan diri dari rutinitas yang selalu menyeringai
Ladangku di Nusantara
Di Benua yang Langka
Ada Sulawesi seperti belalai gajah dan bengkokan paruh Papua
Bentangan Sumatera dan Keramahan Pulau Jawa
Juga Wajah Kalimantan yang kokoh seperti para lelakinya

Aku sang Pribadi Nusa Tenggara, Aku hanya ingin PULANG

Larantuka